Yang diperlukan satu, diminta sepuluh. Yang cukup sedikit, dikumpulkan sebanyak-banyaknya.
Pada akhirnya, kita tidak lagi menikmati apa yang dimiliki, tetapi sibuk menghitung apa yang belum ada.
Secangkir kopi memberi batas pada kenikmatan. Semangkuk bakso memberi batas pada selera. Batas itu bukan kekurangan. Ia justru memungkinkan sesuatu dinikmati secara utuh.
Barangkali demikian pula hidup. Kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak. Kita membutuhkan kemampuan untuk mengenali batas antara cukup dan kurang, kebutuhan dan keserakahan, menikmati dan menumpuk.
Menariknya, renungan itu disampaikan Usman melalui Carakan Madura. Aksara yang menyimpan jejak kebudayaan itu tidak dibiarkan menjadi peninggalan masa lalu.
Carakan dipakai untuk membaca kehidupan hari ini, bahkan melalui perkara sesederhana kopi dan bakso.
Di tangan Usman, Carakan menjadi lebih dari aksara. Ia menjadi jalan untuk mengingat bahwa bahasa dan kebudayaan dapat menyimpan filsafat hidup dalam kalimat yang sangat sederhana.
Secangkir kopi. Semangkuk bakso. Satu kebutuhan. Bukan seribu.
Mungkin memang begitu cara paling sederhana untuk memahami CUKUP: "Jika satu sudah membuat kita nikmat, untuk apa meminta seribu?" ***

