"Jhâ' kèng ta' anèyat, Kyaè," ca'epon sè santrè.
"Mayu' mayu' athowap, marè athowap pas abhâjâng neng è Makam Ibrahim á¸u raka'at," parèntana Kè Kholil.
Marè abhâjâng pas aá¸hâbu Kyaè, "Mole! Mole!" ca'èpon.
"Nompa'a ponapa, Kyaè?" jâwâbbhâ santrè.
"Bâ, bâ'en á¸Ã¢'enna' nompa' apa?" tanya Kè Kholil.
"Bhunten ta' nompa' ponapa, kèng maca mal-amalan sè èpareng Ajunan," ca'èpon santrè.
"Ḍimma, bilâ sèngko' sè toman aberri' mal-amalan ka' bâ'en, Cong?" Kè Kholil kasambu'.
"Ḍhimèn ka'á¸issa' bâkto èntar ka pasar," jâwâb santrè.
"Koddhi' bâca!" parènta Kè Kholil.
"Manjhilân sapolo paju sèttong karè sanga'. Manjhilân sapolo paju sèttong karè sanga'. Manjhilân sapolo paju sèttong karè sanga'," saoddhâ santrè.
"Aá¸á¸hu jârèya bâ'en sè èbâca?" ca'èpon Kè Kholil.
"Èngghi," jâwâb santrè.
"O yâ meddhem, meddhem, meddhem, pas bâca jârèya mal-amalanna," á¸habuna.
"Manjhilân sapolo paju sèttong karè sanga'. Manjhilân sapolo paju sèttong karè sanga'. Manjhilân sapolo paju sèttong karè sanga'," sambi meddhem santrè maos mal-amalanna.
Kè Musleh: "Pas mella' langsung (jhujhuk) bâá¸Ã¢ è masjid è Bhângkalan. Yâ, Allah...".
Dari saking bodohnya, santri itu bahkan tidak tahu cara berhitung dalam ilmu matematika. Yang dia tahu hanya menjaga sandal Mbah
Kholil.
Santri itu pun dites oleh Mbah Kholil untuk menjual biji nangka ke pasar. Sebelum berangkat, Mbah Kholil bertanya kepadanya, "Misal kamu membawa 10 biji nangka, laku 1, maka tinggal berapa biji?" tanya Mbah Kholil menggunakan
Bahasa Madura.
Si santri itu pun menjawab tidak tahu sehingga bantu Mbah Kholil jawab bahwa sisa biji nangka adalah 9 biji.
Sang kiai lalu menyuruhnya berangkat ke pasar. Di tengah perjalanan, santri tersebut mengingat-ingat apa yang diajarkan Mbah Kholil bahwa biji nangka 10 laku satu tinggal sembilan, sambilalu melafalkannya beeulang kali dalam
Bahasa Madura.
Selang beberapa hari kemudian, santri tersebut mendengar kabar bahwa sang kyai akan pergi ke Tanah Suci Mekkah.
Merasa khawatir, santri itupun
bertanya kepada Mbah Kholil dengan polosnya: Apa betul kyai akan pergi ke Mekkah?
Mbah Kholil membenarkannya, tetapi santri itu malah merasa galau dan gelisah, khawatir sandal sang kyai tidak ada yang menjaga dan malah dicuri orang setibanya di Mekkah.
Ia pun menyampaikan kegelisahannya kepada Mbah Kholil. "Saya gelisah kyai. Lantas siapa yang
akan menjaga sandal kyai di sana," katanya.
"Terus kenapa? Jika saya berangkat ke Tanah Suci, kenapa?" tanya Mbah Kholil.
"Pengen ikut, Kyai," jawab si santri dengan polosnya. Ia mengira orang berangkat ke Tanah Suci bisa tanpa ongkos dan biaya perjalanan.
Sang Kyai menolaknya dan beberapa hari kemudian langsung berangkat ke Mekkah.
Di tempat lain, si santri menangis sambil berdzikir membaca ajaran Mbah Kholil waktu ia disuruh berjualan ke pasar, yakni "biji nangka 10 laku 1 tinggal sembilan" menggunakan
Bahasa Madura.
Saat itu, tiba-tiba tanpa sadar dia telah berada di Kota Suci Mekkah tepat di dekat Hijir Ismail. Mbah Kholil terkejut saat melihat santrinya tiba-tiba ada di sisinya.
Sang Kiai pun menyuruhnya untuk segera berthawaf kemudian salat di sisi Makam Nabi Ibrahim. Setelah itu, Mbah Kholil menyuruhnya agar kembali pulang ke Bangkalan.
Tapi lagi-lagi santri itu bingung bagaimana dirinya bisa pulang, sementara ia berada di Mekkah secara tiba-tiba, tak dinyana.
Mbah Kholil pun menyuruhnya untuk memejamkan mata dan membaca lafadz yang menurut santri itu adalah amalan (wiridan).
Demikian, setelah membaca amalan itu, si santri tiba-tiba pula sudah berada di sebuah masjid di Bangkalan.
***