“Awalnya saya diminta membayar Rp 5 juta untuk mengatasi persoalan tersebut. Namun, permintaan uang itu terus berlanjut dengan berbagai alasan lain,” kata Halimi.
Ia menduga permintaan uang tersebut tidak berhenti pada satu kali transaksi.
Halimi juga mengaku mendapat tekanan berupa ancaman bahwa umurnya akan pendek apabila tidak segera menyerahkan uang yang diminta.
Selain itu, kata Halimi, FA dan Ahmad Subaidi disebut menjanjikan tiket ke surga serta pahala ibadah haji hingga 60 kali kepada pengikut yang memberikan sesuatu kepada mereka.
Klaim-klaim tersebut diduga menjadi bagian dari cara keduanya membangun kepercayaan para pengikut.
Halimi, warga Kabupaten Sampang, mengatakan hubungannya dengan Ahmad Subaidi bermula pada 2015. Saat itu, ia berguru kepada seseorang bernama Gus Yayak, yang kemudian memperkenalkannya kepada Ahmad Subaidi.
Setelah Gus Yayak meninggal dunia pada 2019, Halimi mengaku diminta FA untuk mendampingi Ahmad Subaidi. Pada periode tersebut, menurut Halimi, FA mulai mengaku sebagai Imam Mahdi.
“Pada periode tersebut, FA mulai mengaku sebagai Imam Mahdi, dan keduanya mengaku sebagai ahli spiritual,” ujar Halimi.
Halimi menduga jumlah pengikut keduanya cukup banyak, termasuk di wilayah Bangkalan. Karena itu, ia berharap aparat penegak hukum mendalami laporan tersebut untuk mengetahui apakah ada pihak lain yang mengalami kerugian dengan modus serupa.
Ia juga mempertanyakan klaim mengenai kemampuan memperpanjang umur yang disebut-sebut disampaikan kepada para pengikut.

