RINGKASAN BERITA

• Ada agenda pertemuan sejumlah pihak yang dikaitkan dengan internal BHC dan organisasi media dan kewartawanan?

• Ada anjuran agar keluarga ikhlas berupa nasihat keagamaan; jadi potensi berhentinya pertanyaan?

• Kenapa media nasional belum memberi perhatian luas, sementara suara aktivis dan organisasi mahasiswa Sumenep juga belum terdengar?

• Mengapa keluarga Dani belum memperoleh penjelasan medis yang memadai?

• Mengapa klaim bahwa pelayanan sudah sesuai SOP muncul ketika investigasi internal disebut belum selesai?

 

EDITORIAL, DIMADURA – Dani meninggal setelah mendapat suntikan. Keluarga menyebut mulut dan hidungnya mengeluarkan busa. Rumah sakit mengaku masih menginvestigasi, tetapi seorang pegawainya menyatakan penanganan sudah sesuai SOP. DPRD berjanji paggil pihak-pihak terkait. Dinkes masih merencanakan kunjungan. Di tengah itu, beredar informasi tentang pendekatan kepada organisasi media dan anjuran agar keluarga menerima kematian sebagai takdir. Adakah yang sedang berusaha mengendalikan arah perkara ini?

Pertanyaan-pertanyaan di bawah judul itu belum membuktikan adanya konspirasi. Tetapi cukup untuk menuntut penjelasan.

Ada kematian yang meninggalkan duka. Ada pula kematian yang membuka pintu bagi serangkaian pertanyaan. Kematian Muhammad Firman Ramadhani alias Dani, 22 tahun, warga Desa Lenteng Timur, Sumenep, termasuk yang kedua.