dimadura
Beranda Headline Bayang-Bayang Mantan Sekda Jember di Balik Pimpinan Baru Bank Jatim Sumenep

Bayang-Bayang Mantan Sekda Jember di Balik Pimpinan Baru Bank Jatim Sumenep

”   

Silsilah keluarga dan kasus lama menyeruak di tengah kasus pelik Bank Jatim Sumenep. Ada kisah lama yang tak banyak diketahui publik: hubungan darah Bambang Eko Budi Prakoso dengan mantan Sekda Jember, Djoewito, sosok terpidana kasus tukar guling aset daerah.

 


Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1EDITORIAL, DIMADURA Jika dalam lagu anak-anak kita diajak melihat kebun penuh bunga, penuh warna, penuh keriangan, maka dalam kasus ini, kita diajak melihat kantor cabang yang penuh pertanyaan. Penuh kisah lama yang kembali hidup, penuh wajah baru yang tak pernah benar-benar baru, dan penuh kabut masa lalu yang tak juga hilang.

Kantor itu bernama Bank Jatim Cabang Sumenep. Dan di tengah panggung itu, seorang pria bernama Bambang Eko Budi Prakoso, didapuk sebagai pimpinan baru, yang langkah pertamanya langsung disambut riuh skandal fraud Rp23 miliar. Skandal yang disebutnya “kasus lama”, namun kini justru menjadi kasus yang paling banyak dibicarakan.

Ketika kasus ini mencuat lagi akhir 2025, publik mengira ini akan menjadi urusan internal bank semata. Tapi gelombangnya jauh lebih besar dari itu.

Penyidik Tipikor Polres Sumenep mengungkap indiksi persekongkolan karyawan internal dan eksternal, manipulasi fitur mesin EDC, dan perubahan kewenangan transaksi yang seharusnya hanya dimiliki teller bank.

Nama Maya Puspitasari dan Mohammad Fajar Satria muncul sebagai dua figur pusatnya. Alur manipulasi mereka terurai jelas, tetapi publik justru mengarahkan pandangan ke orang yang sekarang memimpin bank itu.

Mengapa? Karena setiap skandal besar selalu membutuhkan satu titik pusat perhatian, dan Bambang berdiri tepat di sana, meski ia bersikukuh bahwa peristiwa itu terjadi sebelum ia datang.

Saat diwawancara di ruang kerjanya, Senin (6/4/), jawabannya pendek dan datar:

“Saya tidak bisa memberikan komentar apa pun, semuanya ada di pusat,” katanya.

Kalimat yang menampilkan tembok besar kekuasaan tingkat regional. Sebuah pagar tinggi yang memisahkan dirinya dari kasus yang memanas.

Ia menyebut akan bersurat ke pusat dan menegaskan, bahwa kantor cabang tak berwenang memberi pernyataan. Ia mengulang bahwa kasus itu bukan masanya.

Namun masalah utama dari kasus ini bukan sekadar siapa yang menjabat kapan. Masalahnya adalah rekam jejak yang panjang, tak pernah dibersihkan, dan terus muncul setiap kali satu pintu ditutup.

Masa Lalu yang Selalu Ikut Menjejak

Sebelum Sumenep, ada Bondowoso. Di sana, Bambang pernah memimpin cabang Bank Jatim lainnya. Di sana pula kasus KUR membelit namanya, membuat beberapa warga tiba-tiba menerima tagihan ratusan juta rupiah yang tidak pernah mereka ajukan.

Klarifikasi resmi bank waktu itu disampaikan oleh orang lain, Rahmad Taufik Hidayat dari divisi kredit, yang berkata bahwa seluruh proses telah berjalan sesuai SOP. Survei, pemberkasan, analisis usaha.

SOP boleh lurus, tetapi kasus itu tak pernah benar-benar lurus di mata publik.

Dan kemudian muncullah potongan informasi lain yang tidak pernah masuk berita arus utama, tetapi telah lama beredar di lingkaran tertentu.

Informasi itu datang dari seorang pria yang meminta disamarkan sebagai IB, yang lalu berkata pelan kepada media ini beberapa waktu lalu, saat ngopi bareng jurnalis dimadura.id di warung Sun Institute.

“Bambang itu keponakannya Djoewito,” ungkapnya.

Nama itu, Djoewito, mengembalikan kita pada halaman lama sejarah Jember. Mantan Sekda itu divonis bersalah oleh Mahkamah Agung dalam kasus tukar guling tanah eks Brigif 9/2 Kostrad, dengan nilai aset sekitar Rp20 miliar. Kasusnya besar, pelik, dan menciptakan jejak panjang yang sulit dihapus dari ingatan birokrasi lokal.

Hubungan keluarga tentu bukan kesalahan. Tapi ketika hubungan itu bertemu posisi strategis, bertemu kasus demi kasus yang muncul beruntun, bertemu rotasi jabatan yang tampak mulus, dan bertemu bisik-bisik seperti milik IB, maka publik memiliki ruang yang lebih luas untuk bertanya.

“Penempatan dia (Bambang, red) ke Sumenep saya kira bukan rotasi biasa. Informasi di level atas itu titipan,” lanjut IB.

Kalimat itu bukan tuduhan. Namun dalam dunia yang setiap langkahnya bergantung pada kepercayaan publik, bisikan kecil sering lebih berarti daripada teriakan besar.

Pertanyaan yang Tidak Dijawab

Di Indonesia, publik terbiasa melihat pejabat yang “datang membawa harapan” namun justru “meninggalkan pertanyaan”. Pada kasus Bambang, pertanyaannya bukan hanya tentang siapa yang menjalankan fraud EDC. Bukan hanya kapan kasus itu terjadi. Bukan pula siapa yang bertanggung jawab penuh.

Pertanyaannya adalah:

Bagaimana mungkin satu orang bisa terus berada tepat di tengah peristiwa yang mengundang tanda tanya, tetapi selalu berada sedikit di pinggir dari urusan hukum?

Polisi telah mengurai modus EDC. Bank Jatim pusat memegang kendali narasi. Sementara Bambang, sebagai pimpinan cabang, lebih banyak memilih diam. Seperti seseorang yang berdiri di ambang pintu, melihat masalah besar di dalam ruangan, tetapi menolak ikut masuk.

Masalahnya, publik tidak hanya menilai dari jabatan sekarang, tetapi juga dari cara seseorang merawat masa lalu. Dan masa lalu Bambang bukanlah halaman kosong.

Kantor Cabang dan Ruang Sunyi

Kantor cabang bank, dalam bayangan ideal, adalah ruang terang tentang transaksi yang bersih, pelayanan rapi, kinerja jelas.

Namun, ketika skandal mengelilinginya, ruang itu bisa disebut, Sunyi. Sunyi karena orang-orang memilih bicara pelan. Sunyi karena ada yang disembunyikan. Sunyi karena lebih banyak pintu yang tertutup daripada terbuka.

Bank Jatim Sumenep hari ini berdiri dalam sunyi semacam itu. Dan Bambang berdiri di pusatnya dengan tiga bayangan panjang yang menemaninya:

  1. Skandal fraud Rp23 miliar yang ia sebut “kasus lama”.
  2. Sorotan KUR Bondowoso yang kembali diingat publik.
  3. Hubungan keluarga dengan Djoewito, seorang tokoh dengan sejarah hukum yang tidak singkat.

Dalam lagu anak-anak, kebun penuh bunga adalah tempat untuk berlari. Sementara kantor cabang yang sedang penuh bayang-bayang adalah tempat untuk bertanya. Dan pertanyaan terbesarnya adalah ini:

Berapa lama lagi masa lalu akan mengikuti langkah Bambang Eko Budi Prakoso?

***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan