dimadura
Beranda Tomang Sumenep DPRD Minta Pelatihan Disnaker Sumenep Tidak Bersifat Seremonial Semata

DPRD Minta Pelatihan Disnaker Sumenep Tidak Bersifat Seremonial Semata

Foto: Anggota Komisi II DPRD Sumenep, Jawa Timur, Masdawi. (Istimewa/Doc. Dimadura).

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1‎NEWS SUMENEP, DIMADURA–Anggota Komisi II DPRD Sumenep, Jawa Timur, Masdawi, menekankan efektivitas program pelatihan kerja yang diselenggarakan Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) harus menghasilkan dampak yang berkelanjutan.

‎Ia menegaskan pentingnya keberlanjutan program agar tidak berhenti hanya pada tahap pelatihan semata.

‎Menurut Masdawi, program pelatihan seperti menjahit dan tata rias seharusnya mampu membuka peluang kerja bagi masyarakat.

‎Namun, ia mengingatkan agar pelatihan tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial yang menghabiskan anggaran tanpa dampak jangka panjang.

‎“Kita menginginkan masyarakat setelah pelatihan mempunyai peluang kerja. Jangan hanya dilatih, lalu selesai tanpa ada kontinuitas,” jelas dia. Jum’at (10/4/26).

‎Ia menilai, peserta pelatihan memiliki keterbatasan waktu praktik yang hanya berlangsung beberapa kali pertemuan. Oleh karena itu, hasil pelatihan harus benar-benar dimaksimalkan agar memberikan manfaat nyata.

‎Masdawi juga menyoroti kendala lain, yakni minimnya fasilitas pendukung yang dimiliki peserta setelah mengikuti pelatihan.

‎Banyak peserta, kata dia, tidak memiliki peralatan kerja di rumah, sehingga keterampilan yang diperoleh sulit untuk langsung diterapkan.

‎“Kalau peserta sudah punya alat, kita tinggal mengarahkan dan meningkatkan kemampuannya. Tapi sekarang banyak yang tidak punya alat, juga tidak ada kemitraan dengan pelaku usaha seperti penjahit atau perias,” ucap Masdawi.

‎Kondisi tersebut, lanjut dia, berpotensi membuat hasil pelatihan tidak berkelanjutan.

‎Masdawi menekankan pentingnya langkah konkret agar peserta dapat langsung bekerja atau berusaha setelah pelatihan selesai.

‎Selain itu, pihaknya juga mengkritisi metode pelatihan yang dinilai masih terlalu menitikberatkan pada teori.

‎Masdawi menilai porsi praktik seharusnya lebih dominan agar peserta benar-benar siap kerja.

‎“Kalau ingin menghasilkan tenaga kerja yang terampil, seharusnya praktik lebih banyak, sekitar 70 persen, sementara teori cukup 30 persen,” tutur dia.

‎Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Sumenep, Mustangin, melalui Kepala Bidang Pelatihan, Produktivitas, dan Hubungan Industrial, Eko Ferryanto, sebelumnya menjelaskan bahwa seluruh pelatihan telah dirancang berbasis kompetensi dan mengacu pada standar nasional.

‎“Setelah mengikuti pelatihan, peserta akan menjalani uji kompetensi melalui lembaga sertifikasi profesi. Jadi mereka tidak hanya mendapatkan sertifikat pelatihan, tetapi juga sertifikat kompetensi,” jelas Eko, Rabu (9/4/2026).

‎Pada 2026, Disnaker Sumenep menyiapkan delapan paket pelatihan yang tersebar di dua wilayah, yakni enam paket di wilayah daratan dan dua paket di wilayah kepulauan.

‎Adapun jenis pelatihan yang disiapkan meliputi keamanan (security), tata boga, tata rias, multimedia, menjahit, serta las listrik.

‎”Kami inginkan program ini dapat meningkatkan keterampilan tenaga kerja sekaligus mendorong penyerapan tenaga kerja di daerah,” pungkasnya. ***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan