Lampu Festival Menyala, Kantong Daerah Merana
EDITORIAL, DIMADURA – Di saat keuangan daerah Sumenep dikabarkan sedang seret, panggung Madura Culture Festival (MCF) 2025 justru menghadirkan cerita yang menyala: Rakyat Bertanya, Ke Mana Lenyap Dana Budaya?
Alih-alih jadi pesta rakyat, festival yang mestinya merayakan kebudayaan itu berubah menjadi perbincangan tentang dugaan monopoli anggaran dan siapa yang sebenarnya berkuasa di balik ratusan tenda, umbul-umbul, dan panggung hiburan.
Nama yang muncul pun bukan orang baru. Sugeng Hariyadi, mantan Tenaga Ahli Bupati yang kini menjadi Komisioner Baznas, dituding berada di balik kendali pengelolaan dana MCF.
Investigasi media menyorot perannya dalam mengatur tarif sewa tenda hingga disebut menarik iuran dari pengusaha rokok.
Perhitungan yang beredar memperkirakan, jika ditotal dari APBD, tenda, dan sponsor, dana bisa menembus hampir Rp1 miliar. Angka itu terasa ironis di tengah kabar APBD daerah yang “tidak baik-baik saja.”
Sugeng sendiri membantah keras tuduhan itu. Ia mengaku hanya berperan sebagai EO untuk Madura Kultur dan Pameran Pembangunan.
“Festival Tembakau itu panitianya Paguyuban, Festival Batik ada panitianya sendiri, Sweet Model juga begitu,” ujarnya, menepis tudingan bahwa semua aliran dana bermuara padanya.
Tuduhan transfer Rp40 juta dari paguyuban rokok pun ia tolak. “Tidak benar. Mereka memang mau bikin festival sendiri, sempat tawar Rp60 juta ke saya, tapi tidak jadi,” katanya.
Begitu pula soal sponsor besar yang disebut bisa menambah pundi hingga miliaran rupiah. Sugeng balik dengan angka kecil: “RSUD cuma Rp500 ribu, SKK Rp2,5 juta, Kangean Energi Rp5 juta.”
Akhirnya perdebatan publik menyempit menjadi soal tafsir angka. Investigasi bicara miliaran, Sugeng bicara belasan juta. Investigasi menuding bancakan, Sugeng menyebut hoaks.
Yang absen dari semua ini justru transparansi. Dari APBD memang ada alokasi Rp200 juta untuk MCF, sisanya terbagi untuk lima kegiatan lain.
Tetapi, bagaimana uang rakyat itu dibelanjakan, siapa mendapat bagian, dan seberapa besar manfaatnya kembali ke masyarakat. Semua masih kabur.
MCF pun terjerumus jadi ironi. Namanya festival budaya, tapi yang dipertontonkan justru seni sulap anggaran.
Rakyat tidak lagi menonton tari atau musik, melainkan menebak-nebak ke mana hilangnya dana sponsor, tenda, dan iuran yang katanya ada tapi juga katanya tidak ada.
Jika ini dibiarkan, MCF hanya akan diingat sebagai panggung lain dari sandiwara klasik: ketika uang rakyat lebih lantang bicara daripada budaya yang mestinya dirayakan. ***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





