Jika cerita itu benar, maka angka Rp200 juta atau Rp300 juta yang kini diperdebatkan sebenarnya hanyalah bagian kecil dari panggung besar yang selama ini tersembunyi.
Karena itu, publik tidak membutuhkan transparansi yang pilih kasih. Publik membutuhkan keterbukaan total.
Buka seluruh data. Sebut seluruh nama. Tampilkan seluruh angka.
Jangan biarkan media kecil saling berebut remah di atas meja, sementara para pengaduk kue menikmati seluruh jamuan dari balik tirai.
Di republik advertorial ini, yang paling berbahaya bukan mereka yang minta bagian. Yang paling berbahaya adalah mereka yang berhasil membuat orang lain bertengkar, sementara dirinya tetap tak tersentuh sorotan.
Sebenarnya, kita dapat menilai sendiri siapa yang sedang main boneka. Siapa yang sesungguhnya menggerakkan panggung. ***
