Oleh: Amin Bashiri
SEMUA INI berawal dari sebuah status WhatsApp seorang teman yang sedang mengikuti kegiatan Sekolah Literasi. Di bawah fotonya, ia menulis kalimat singkat: “Semoga mengerti.”
Saya tersenyum membaca itu. Teman saya tersebut dulunya seorang pekerja seni. Ia akrab dengan teater, puisi, dan berbagai kegiatan kreatif. Namun hidup membawanya ke jalan yang berbeda.
Karena rumahnya berada di kawasan pesisir, kini ia lebih banyak membantu orang tuanya sebagai pengepul ikan.
Saya lalu membalas statusnya dengan kalimat setengah bercanda, setengah serius: “Kalau tidak membahas soal ikan, laut, dan kesejahteraan nelayan, pulang!”
Tentu itu hanya gurauan. Namun semakin saya pikirkan, semakin saya merasa bahwa kalimat itu sebenarnya menyimpan kegelisahan yang nyata.
SEBAGAI editor berita, setiap hari saya berhadapan dengan berbagai isu daerah yang seolah tidak pernah selesai. Mulai dari tarik-ulur politik anggaran, polemik pendidikan, sengketa lahan, hingga perdebatan panjang dalam pembahasan berbagai rancangan peraturan daerah. Hampir setiap hari ruang publik disesaki oleh isu-isu tersebut.
Namun di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: LAUT.
Padahal Madura adalah wilayah maritim. Laut bukan sekadar batas geografis yang mengelilingi pulau ini. Laut adalah sumber kehidupan, ruang ekonomi, identitas budaya, bahkan penentu masa depan masyarakatnya. Ironisnya, isu kelautan sering kali hanya muncul ketika terjadi konflik, kecelakaan laut, atau ketika harga ikan anjlok.
Bagi saya, mengurus laut sama pentingnya dengan mengurus halaman rumah sendiri. Tidak mungkin seseorang mengaku peduli pada rumahnya jika halaman yang paling luas justru dibiarkan terbengkalai. Begitu pula Madura. Tidak masuk akal jika kita terus memperdebatkan pembangunan dan kesejahteraan daerah, sementara sektor yang menjadi karakter utama wilayah ini justru tidak ditempatkan sebagai prioritas.
Persoalan kelautan sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan langsung dengan banyak sektor yang selama ini menjadi bahan perdebatan para pengambil kebijakan.
Pendidikan misalnya. Berapa banyak anak nelayan yang kesulitan melanjutkan sekolah karena penghasilan orang tuanya tidak menentu? Berapa banyak generasi muda pesisir yang akhirnya meninggalkan kampung halamannya karena tidak melihat masa depan di sektor kelautan?
Begitu pula dengan ekonomi. Ketika nelayan mendapatkan harga jual yang layak, rantai distribusi ikan berjalan sehat, fasilitas penyimpanan dan pengolahan hasil laut tersedia dengan baik, maka perputaran ekonomi masyarakat akan meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan nelayan, tetapi juga pedagang, pelaku usaha kecil, hingga sektor jasa.
BELUM LAGI persoalan lingkungan. Kerusakan ekosistem pesisir, abrasi, pencemaran laut, dan eksploitasi sumber daya yang tidak terkendali adalah ancaman nyata yang perlahan menggerus masa depan daerah. Jika masalah-masalah ini tidak diantisipasi sejak sekarang, maka generasi mendatang hanya akan mewarisi laut yang miskin sumber daya.
Yang sering terlupakan adalah bahwa laut bukan hanya soal ikan. Laut adalah pendidikan, ekonomi, lingkungan, budaya, pariwisata, dan kesejahteraan masyarakat sekaligus. Karena itu, membicarakan laut sesungguhnya sama dengan membicarakan masa depan Madura.
Sayangnya, perhatian terhadap isu ini sering kalah oleh agenda-agenda politik jangka pendek. Laut tidak cukup menarik untuk dijadikan bahan perdebatan di ruang-ruang kekuasaan. Ia tidak menghadirkan sensasi seperti konflik politik. Ia tidak menghasilkan sorotan sesaat seperti polemik anggaran. Padahal manfaatnya jauh lebih nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Mungkin karena itulah saya spontan menulis pesan kepada teman saya yang sedang mengikuti sekolah literasi: “Kalau tidak membahas soal ikan, laut, dan kesejahteraan nelayan, pulang!”
TENTU, saya tidak benar-benar meminta ia pulang. Saya hanya ingin mengatakan bahwa literasi seharusnya membantu kita memahami persoalan yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Dari laut, Madura dikenal dengan tanah garam. Namun pertanyaannya, apakah masyarakat Madura pernah mencicipi kesejahteraan karena garam?
Salah sehat, salam logika.
Sumenep, 2026

