Membangun Masa Depan Lewat “Equilibrium Sosial-Inklusif”, Gagasan Besar dari Timur untuk PMII Jatim
NEWS SUMENEP, DIMADURA–Di tengah derasnya arus radikalisme digital, kerusakan lingkungan, dan polarisasi sosial, sebuah gagasan segar muncul dari Timur.
Bukan dari pusat kekuasaan, melainkan dari ruang-ruang kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur.
Gagasan itu bernama Equilibrium Sosial-Inklusif, ditawarkan sebagai arah baru gerakan mahasiswa Islam, yang digagas oleh Maksudi, bakal calon Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Jawa Timur pada Konferensi Koordinator Cabang (Koonkorcab) XXV.
Di balik konsep akademis ini, ada keresahan yang mendalam. Gagasan ini sebagai ikhtiar untuk menjadikan PMII Jatim relevan dan berguna dalam dunia yang cepat berubah.
“Gerakan mahasiswa tidak bisa lagi hidup dari romantisme masa lalu. Kita butuh orientasi baru yang menjawab tantangan zaman, bukan hanya marah-marah di jalan, tapi juga membangun sistem,” ujar Maksudi. Rabu (28/05/2025).
Gagasan Lahir dari Kegelisahan
Konsep equilibrium sosial-inklusif tidak datang dari ruang kosong. Maksudi menyebutnya lahir dari tiga rasa prihatin terhadap merebaknya radikalisme digital di kalangan pelajar, ketimpangan kaderisasi berbasis kampus keagamaan dan non-keagamaan, serta minimnya literasi lingkungan dan teknologi dalam gerakan mahasiswa. Laporan Bakesbangpol tahun 2022 menyebut 37% pelajar Jatim terpapar paham radikal dari media sosial.
“Ini darurat, dan kita tidak bisa hanya menyerahkan ke pemerintah. PMII harus jadi firewall ideologis dan kultural,” tegasnya.
Ia menambahkan, disrupsi digital juga menciptakan paradoks besar. Anak muda punya HP, tapi tidak punya filter. Maka ia akan mendorong Media Center PMII Jatim jadi ujung tombak produksi konten edukatif.
Tiga Pilar Strategis: Lingkungan, Toleransi, dan Ekonomi
Gagasan equilibrium itu diterjemahkan dalam tiga pilar gerakan: lingkungan hidup, toleransi lintas iman, dan kemandirian ekonomi kader.
Di bidang lingkungan, PMII Jatim sudah mulai dari bawah. Pada Januari 2024 lalu, PMII Jatim menyebut bahwa kawasan Eko Wisata Mangrove di desa Segoro Tambak menghadapi ekosistem mengrove yang berfungsi sebagai pelindung alami dari abrasi. PMII terlibat dalam gerakan peduli lingkungan dengan dampak nyata di Tengah Masyarakat.
Sementara itu, soal toleransi, PMII Jatim kembali menghidupkan Forum Dialog Lintas Agama di berbagai kota. Forum ini bukan sekadar seremonial, tapi diikuti dengan pelatihan kader untuk membentuk simpul dialog lintas agama di desa-desa.
Di ranah ekonomi, PMII Jatim tak tanggung-tanggung. Mereka membentuk Inkubator Wirausaha Sosial dan Badan Usaha Milik Koordinator Cabang (BUMKC) untuk menggerakkan ekonomi kader berbasis kreativitas dan filantropi digital.
“Kemandirian ekonomi kader itu bukan gaya-gayaan, tapi syarat utama keberlanjutan gerakan,” jelasnya.
Jalan Panjang dan Optimisme Baru
Gagasan equilibrium sosial-inklusif memang terdengar teoretis. Tapi PMII Jatim membuktikan bahwa teori pun bisa ditanamkan di tanah gerakan.
“Kita sedang menyulam antara nilai Aswaja, nalar kritis, dan kerja nyata,” tutur Maksudi.
Kini, lewat platform digital “Suara PMII Jatim”, mereka mengawasi kebijakan publik, menulis policy paper, dan mengedukasi generasi muda lewat konten positif. Tujuannya satu: mengimbangi narasi destruktif dengan nalar konstruktif.
“Gagasan besar memang butuh waktu. Tapi setidaknya, kita tidak lagi bergerak tanpa arah. PMII Jatim harus jadi jangkar di tengah arus yang kacau,” pungkasnya.
Untuk mewujudkan Visi tersebut, berikut Misi yang disusun:
1. Navigasi Kaderisasi Holistik Berbasis Potensi dan Kebutuhan Zaman.
2. Memperluas Partisipasi Kader di Sektor Strategis dengan Pendekatan Kolaboratif.
3. Optimalisasi peran Ulama dan Umara dalam mewujudkan Islam washatiyah.
4. Mengoptimalkan Advokasi Kebijakan Publik melalui Media Kreatif dan Jejaring Stakeholder Multipihak.
5. Mendorong Kemandirian Organisasi melalui Penguatan Jejaring dan Ekonomi Kader.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





