SUMENEP, DIMADURA–Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, mencatat luas tanam tembakau pada 2026 kembali meningkat hingga mendekati 18.000 hektare.

Kondisi tersebut membuat luas areal tanam tembakau tahun ini relatif mendekati capaian tahun 2024. Namun, peningkatan luas tanam itu dinilai belum berdampak terhadap penurunan harga tembakau di tingkat petani.

Kepala DKPP Sumenep Chainur Rasyid mengatakan, kondisi musim tanam yang relatif baik turut mendukung perkembangan tanaman tembakau di sejumlah wilayah.

"Di tahun 2024 luas tanam tembakau Sumenep sekitar 18.000 hektare. Tahun 2025 sekitar 14.000 hektare. Tahun 2026 ini relatif hampir sama dengan tahun 2024, yakni mendekati 18.000 hektare," kata Chainur Rasyid yang akrab disapa Inung. Kamis (10/9/26). 

Menurut dia, kondisi musim yang mendukung turut berpengaruh terhadap kualitas tembakau. Kondisi yang dimaksud juga diikuti dengan harga jual yang dinilai cukup baik.

"Karena musimnya baik, harga tembakau tahun ini juga sangat bagus. Kami berharap kondisi ini dapat meningkatkan pendapatan ekonomi para petani," harapnya.

Inung mengatakan, harga tembakau di tingkat petani saat ini relatif berada di atas Titik Impas Harga Tembakau (TIHT) yang ditetapkan Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Ia mencontohkan, harga tembakau gunung sempat mencapai mendekati Rp77.000 per kilogram. Sebagian tembakau lainnya berada di kisaran Rp70.000 per kilogram.

"Kalau tembakau gunung, titik impasnya sekitar Rp69.489 per kilogram. Alhamdulillah, harganya sudah cukup baik di atasnya," katanya.

Meski demikian, menurut Inung harga tembakau tetap bergantung pada kualitas daun yang dihasilkan petani. Perusahaan pembelian tembakau memiliki standar tersendiri dalam menentukan harga.