Dengan demikian, pariwisata Sumenep seharusnya tidak hanya dipahami sebagai urusan pantai, bukit, atau tempat rekreasi. Pariwisata juga menyangkut sejarah, tradisi, satwa, makanan, cerita masyarakat, dan lanskap kepulauan yang membentuk karakter Sumenep.
Apalagi Sumenep memiliki wilayah kepulauan yang sangat luas. Pemerintah daerah mencatat terdapat 126 pulau, dengan 48 di antaranya berpenghuni. Kondisi geografis ini sekaligus menjadi kekuatan dan tantangan dalam mengembangkan pariwisata.
Karena itu, potensi 200 destinasi tersebut membutuhkan satu langkah penting, yaitu kerja dokumentasi dan promosi yang terencana.
Salah satunya melalui penerbitan buku katalog wisata Sumenep yang memuat nama destinasi, lokasi, sejarah atau cerita di baliknya, karakteristik, akses, serta informasi pendukung lainnya. Buku semacam ini dapat menjadi etalase yang memperkenalkan wajah Sumenep secara lebih utuh kepada wisatawan domestik maupun mancanegara.
Gagasan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah Kabupaten Sumenep sendiri telah mendorong promosi wisata berbasis desa melalui Festival Desa Wisata. Pada 2024, sebanyak 27 kecamatan ikut memperkenalkan potensi desa wisata unggulan masing-masing. Pemerintah daerah juga menekankan bahwa pengembangan desa wisata harus memberi dampak terhadap kesejahteraan masyarakat.
Promosi yang lebih terstruktur akan membuat destinasi yang selama ini hanya dikenal masyarakat setempat memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam peta perjalanan wisatawan.
Dampaknya pun tidak berhenti pada sektor pariwisata.
Wisatawan yang datang membutuhkan transportasi, penginapan, makanan, oleh-oleh, pemandu, jasa fotografi, hingga berbagai kebutuhan lainnya. Rantai ekonomi itu akan membuka ruang lebih besar bagi pelaku UMKM dan masyarakat di sekitar destinasi.
Pada akhirnya, pengembangan wisata bukan semata untuk mengejar banyaknya orang yang datang. Yang lebih penting adalah bagaimana kunjungan tersebut menciptakan perputaran ekonomi di tingkat masyarakat sekaligus memberi kontribusi terhadap pendapatan asli daerah.
Sumenep sebenarnya sudah menunjukkan bahwa sektor ini mempunyai potensi ekonomi. Pada 2024, PAD yang dikelola Disbudporapar hampir mencapai Rp1 miliar dan bersumber dari tiga destinasi yang dikelola langsung pemerintah daerah, yakni Pantai Slopeng, Pantai Lombang, dan Museum Keraton Sumenep.

