Jika tiga destinasi saja mampu menghasilkan penerimaan demikian, maka dapat dibayangkan besarnya peluang ekonomi apabila ratusan potensi wisata lainnya dipetakan, dikembangkan, dikemas, dan dipromosikan secara serius.
Di sinilah angka 200 menjadi penting.
Bukan karena Sumenep harus berlomba sekadar menghitung jumlah destinasi dengan kabupaten lain di Madura, melainkan karena angka tersebut menunjukkan betapa besar kekayaan wisata yang dimiliki daerah ini.
Pekerjaan berikutnya adalah memastikan kekayaan itu tidak berhenti sebagai daftar.
Ia harus menjadi pengetahuan, menjadi promosi, menjadi kunjungan, menjadi aktivitas ekonomi, dan pada akhirnya menjadi kesejahteraan masyarakat Sumenep.***

