Karena itu, angka 200 tersebut perlu dibaca sebagai peta potensi wisata Sumenep, bukan semata-mata jumlah objek yang saat ini dikelola pemerintah daerah.

Keunggulan Sumenep memang tidak berhenti pada wisata yang sudah populer. Pantai Badur, misalnya, menawarkan lanskap pesisir yang khas. Pantai Ponjuk di Talango memiliki panorama yang sekilas mengingatkan pada Tanah Lot di Bali. Pantai E Kasoghi di Kebundadap menawarkan perpaduan pantai dan hutan mangrove. Sementara Sumber Kermata di Saronggi serta Pelabuhan Kuno Bintaro menyimpan karakter dan cerita yang berbeda.

Potensi tersebut menjadi semakin menarik ketika memasuki ranah konservasi.

Sumenep memiliki kijang atau rusa di Sapeken, ayam bekisar di Kangean, kakaktua jambul kuning di Masalembu, kucing Busok di Raas, burung gosong di Arjasa, hingga penyu Pilalang di Sapeken.

Kekayaan semacam ini tidak selalu dimiliki daerah lain dalam satu wilayah administratif. Ia bukan hanya objek tontonan, melainkan dapat menjadi pintu masuk bagi pengembangan ekowisata, wisata edukasi, penelitian, dan konservasi berbasis masyarakat.

Demikian pula dengan wisata budaya.

Di Legung terdapat tradisi kasur pasir dan acara Pangantan Ngèka' Sangger. Di Langsar, Saronggi, terdapat upacara Cahè. Ambunten mempunyai Sandur Pantel, sedangkan Kalianget memiliki Tari Ritual Juwâg.

Tradisi-tradisi tersebut sesungguhnya merupakan aset kebudayaan yang dapat menjadi bagian penting dari industri pariwisata apabila didokumentasikan, dikemas, dan dipromosikan secara tepat tanpa menghilangkan makna aslinya.

Kekayaan itu bahkan berlanjut hingga ke meja makan.

Jubâdhâ dari Kopedi, Olet dari Lenteng, dan Tèkay dari Marèngan merupakan contoh kecil dari kuliner khas yang dapat menjadi identitas gastronomi Sumenep.