Mohammad Suhaidi | Penulis Bebas & Dosen Universitas PGRI Sumenep

 

“Yang jelas, pembacaan Surat Al-Waqi’ah sebanyak 111.111 kali ini diharapkan tidak sekadar menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Sumenep dan Hari Santri Nasional 2026, tetapi memperkuat semangat spiritual dan kebersamaan seluruh elemen pemerintahan dalam mengabdi kepada masyarakat.”
 

BEGITULAH pesan mendalam Bupati Achmad Fauzi Wongsojudo atas  langkah nyentriknya baru-baru ini: gerakan membaca Surat Al-Waqi’ah dengan jumlah yang relatif menakjubkan.

Terobosan menarik dan memiliki makna spiritual yang tinggi dan relatif tidak pernah dilakukan oleh pemimpin-pemimpin sebelumnya.

Mengingat kebijakan ini lebih bersifat spiritual dalam lingkungan birokrasi Kabupaten Sumenep, yaitu kebijakan yang dikemas dalam Surat Edaran Nomor 44 Tahun 2026, tentang pembacaan Surat al-Waqi’ah sebanyak 111.111 kali di lingkungan pemerintah Kabupaten Sumenep.

Surat Edaran Bupati ini tertanggal 19 Oktober 2026, dikeluarkan dalam suasana Hari Sanri dan Hari Jadi Kabupaten Sumenep. 

Lalu, apa rahasia penting di balik Surat al-Waqi’ah dan angka 111.111? Hanya Bupati Fauzi yang bisa menjelaskan. Titik!

Kebijakan ini unik dan aneh. Bukan hanya karena masalah “mengapa harus surat al-Waqi’ah?”, tetapi juga terletak pada kode angka yang benar-benar memberikan kesan misterius.

Membaca surat al-Waqiah sebanyak 111.111 kali, bukan hanya angka biasa yang tidak punya makna dan tujuan, melainkan telah memberikan satu perspektif baru tentang dunia birokrasi sebagai pelayanan pembangunan Sumenep yang lebih spritual.

Memang secara tersurat, kebijakan yang melibatkan semua OPD, pemerintah kecamaatan dan pemerintah desa, misi utamanya adalah sebagai jalan doa dan permohonan kepada Tuhan agar Kabupaten Sumenep menjadi Kabupaten yang makmur dan sejahtera. 

Melalui surat edaran ini, Bupati Fauzi sebenarnya sedang memastikan bahwa tagline “Bismillah Melayani”, tidak hanya sekedar tagline tetap harus menjadi ruh pembangunan yang dilakukan di Kabupaten Sumenep.

Pembacaan Surat al-Waqi’ah yang harus dilaksanakan pada 22 s.d 30 Oktober 2026 dengan jumlah yang relatif cukup banyak tersebut, pada dasarnya memiliki keterkaitan dengan nilai-nilai spritual sebagaimana terkandung dalam semangat Bismillah Melayani yang sangat khas.

Dengan edaran ini, Bupati juga sedang mengajak semua elemen dalam struktur Pemerintah Kabupaten Sumenep untuk mengetuk pintu langit bersama-sama dengan membaca surat al-Waqi'ah sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.

Bupati Fauzi sejatinya, sedang menempuh jalan langit dalam mengurai proses pembangunan Kabupaten Sumenep agar lebih berkah, lebih bermanfaat dan lebih berorientasi pada nilai-nilai ibadah yang genuine.

Tentu saja dengan edaran untuk melakukan “tirakat waqi’ah” ini Bupati Fauzi juga sedang meguatkan cara pandang semua ASN dan elemen-elemen pemerintahan Kabupaten Sumenep untuk menguatkan ikhtiar spritual, bukan hanya sekadar doa’ kepada Tuhan, melainkan juga menjadi implementasi dari rasa syukur atas proses pembangunan yang dilakukan di Sumenep. 

Pembacaan Surat al-Waqi’ah juga pada hakikatnya menjadi bagian dari upaya untuk meretas  jalan langit agar proses pembangunan Kabupaten Sumenep hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang selalu mendapatkan ma’unah dan kemudahan dari Tuhan Yanga Maha Kuasa.

Di balik itu juga ada pesan penting; Bupati Fauzi ingin memastikan bahwa pembangunan yang kuat itu, sejatinya tidak bisa dilepaskan dari penguatan spiritualitas yang tinggi. Karena itu merupakan bagian dari jalan langit yang penting.

Pembacaan Surat al-Waqi’ah sebanyak 111.111 kali merupakan bagian dari jalan langit (riyadhoh spiritual) yang dilakukan Bupati Fauzi agar visi dan misi besar pembangunan Sumenep bisa diwujudkan dengan tetap berharap ridho dan pertolongan Ilahi, karena Bupati dan semua elemen birokrasi hanya sebagai pelaku, sementara penentu keberhasilan dan kelancaran setiap ikhtiar tetap menjadi milik Yang Maha Kuasa.

Apalagi, telah menjadi hukum alam bahwa tidak semua hal bisa dilakukan dengan kekuatan fisik, tidak semua hal bisa dipecahkan dengan otak, dan tidak semua hal bisa dijawab secara matematis.

Doa’ dan riyadhoh yang dilakukan oleh seorang pemimpin, kerapkali menjadi solusi dan pembuka jalan atas setiap mimpi dan harapan yang sedang diperjuangkan dengan maksimal.

Dalam keterkaitan itu, edaran ini juga menjadi gambaran tentang komitmen spritual Bupati dalam ekosistem pembangunan yang diperjuangkan.

Bupati sejatinya ingin memberikan pesan penting bahwa pembangunan daerah, sebenarnnya tidak hanya berhubungan dengan infrastruktur, fasilitas, jalan, gedung dan ekonomi, tetapi juga perlu dibangun dengan pondasi spiritual yang kuat. 

Membaca surat al-Waqi’ah dengan jumlah yang besar, tentu saja tidak bisa dilakukan secara pribadi, melainkan dibutuhkan keterlibatan semua pihak sebagaimana tertuang dalam edaran Bupati. 

Sebab, keterlibatan dan partisipasi segenap elemen dalam pemerintahan Sumenep, gerakan membaca Surat al-Waqi’ah tersebut, menjadi momentum yang penting dalam membangun tata hubungan, gotong-royong dan kebersamaan serta tanggungjawab dalam mewujudkan setiap harapan yang lebih baik.

Setiap pihak memiliki ruang yang sama untuk terlibat membaca surat al-Waqi’ah sekaligus mengetuk pintu langit agar pembangunan Kabupaten Sumenep menjadi kabupaten yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghafur bisa tercapai.

Edaran Bupati itu juga bermakna luhur, karena mengisyaratkan tentang pentingnya gerakan doa’, ikhtiar dan kebersamaan dalam menguatkan spritualitas dalam pembangunan di Kota Keris ini. ***