dimadura
Beranda Congkop Wawancara Pakar Ilmu Falaq UIN Madura Prediksi Fenomena Blood Moon Terjadi Sebelum Pertengahan Ramadhan

Pakar Ilmu Falaq UIN Madura Prediksi Fenomena Blood Moon Terjadi Sebelum Pertengahan Ramadhan

Guru Besar Ilmu Falaq UIN Madura, Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag. (doc.dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1WAWANCARA, DIMADURA Ketua PWI Pamekasan, Khairul Anam, merilis hasil wawancara mendalam bersama Guru Besar Ilmu Falaq , Prof. Dr. H. Achmad Mulyadi, M.Ag, terkait fenomena astronomi Gerhana Bulan Total atau Blood Moon yang diprediksi terjadi sebelum pertengahan Ramadan 1447 Hijriah.

Fenomena langit yang dijadwalkan berlangsung pada 3 Maret 2026 tersebut menarik perhatian publik karena disebut-sebut bertepatan dengan tanggal 13 atau malam ke-14 Ramadan.

Secara astronomis, perbedaan tanggal itu dinilai wajar karena berkaitan erat dengan dinamika perhitungan kalender hijriah dan posisi fase bulan.

Berikut hasil wawancara Ketua PWI Pamekasan bersama Guru Besar Ilmu Falaq UIN Madura yang diterima dimadura.id, Jumat 27 Februari 2026, hari kesembilan Ramadhan 1447 H., kami tayangkan dalam format tanya jawab:


Mengapa gerhana bulan total atau blood moon tahun ini Anda sebut bisa terjadi pada 13 atau 14 Ramadan?

Prof. Achmad Mulyadi:

Gerhana bulan pada prinsipnya hanya terjadi ketika matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu garis lurus, tepat saat fase bulan purnama.

Ketika bulan memasuki bayangan inti bumi (umbra), maka terjadilah gerhana bulan total yang tampak berwarna kemerahan atau dikenal sebagai Blood Moon.

Dalam kalender hijriah, fase purnama secara teoritis memang berada di sekitar tanggal 14–15 bulan qamariah. Namun kenyataannya, gerhana kadang terjadi pada tanggal 13, 14, bahkan mendekati tanggal 15.


Berarti siklus bulan tidak selalu sama? Boleh dijelaskan apa faktor utama penyebab pergeseran tersebut!

Prof. Achmad Mulyadi:

Salah satu penyebabnya adalah siklus sinodik bulan yang tidak konstan. Rata-rata siklus bulan memang sekitar 29 hari 12 jam 44 menit, tetapi dalam praktiknya bisa lebih pendek maupun lebih panjang.

Akibat variasi ini, momen purnama tidak selalu jatuh tepat di pertengahan kalender hijriah.

Selain itu, awal bulan hijriah tidak selalu ditentukan secara astronomis murni. Penetapan awal Ramadan bisa melalui rukyat (pengamatan langsung) ataupun metode hisab dengan kriteria tertentu seperti imkanur rukyat.

Selisih beberapa jam saja dalam penentuan awal bulan dapat menggeser tanggal purnama.


Terkait pengaruh zona waktu dan orbit bulan, apakah faktor global juga berpengaruh?

Prof. Achmad Mulyadi:

Ya. Fase purnama terjadi secara global dalam waktu universal (UTC). Namun setiap wilayah memiliki tanggal lokal berbeda karena kalender hijriah berbasis waktu maghrib. Pergeseran waktu beberapa jam saja bisa mengubah tanggal hijriahnya.

Selain itu, orbit bulan berbentuk elips, bukan lingkaran sempurna. Kadang bulan bergerak lebih cepat saat dekat bumi (perigee) dan lebih lambat saat menjauh (apogee). Hal ini menyebabkan waktu purnama sedikit bergeser dari nilai rata-rata.

Karena itu, secara prinsip gerhana selalu terjadi saat purnama, tetapi tanggal hijriahnya bergantung pada sistem kalender dan lokasi pengamat.


Bagaimana Anda melihat fase gerhana bulan total dan fenomena blood moon Ramadan tahun ini?

Prof. Achmad Mulyadi:
Gerhana total pada 3 Maret 2026 terjadi setelah magrib di Indonesia, dimulai sekitar pukul 17.58 WIB hingga 20.46 WIB. Puncak gerhana berlangsung pukul 19.59 WIB.

Jika dihitung dari konjungsi awal Ramadan yang terjadi 18 Februari 2026, maka umur bulan saat maksimum gerhana mencapai 13,54 hari. Umur ini sangat sesuai dengan fase purnama presisi, sehingga fenomena tersebut dikategorikan sebagai Blood Moon.

Dengan umur bulan sekitar 13,5 hari, gerhana dapat disebut terjadi pada malam 13 menuju 14 Ramadan atau malam 14 Ramadan, tergantung metode penetapan awal bulan.


Kondisi Pengamatan di Seluruh Madura

Bagaimana peluang masyarakat Madura mengamati fenomena ini?

Prof. Achmad Mulyadi:
Wilayah Madura, yang itu meliputi Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep, memiliki koordinat astronomis yang hampir sama. Karena itu, parameter pengamatan gerhana di seluruh kabupaten nyaris identik.

Pada 3 Maret 2026, bulan terbit sekitar pukul 17.47–17.49 WIB, hanya beberapa menit setelah magrib. Saat bulan muncul di ufuk timur, gerhana sudah berlangsung sekitar 10–12 menit dalam fase parsial.

Puncak gerhana terjadi saat bulan berada pada ketinggian sekitar 32°–35° di langit timur–tenggara. Posisi ini sangat ideal karena bulan telah jauh dari gangguan atmosfer bawah.

Jarak bulan saat maksimum diperkirakan sekitar 362.000–365.000 kilometer dari bumi. Karena posisinya relatif dekat, durasi totalitas berlangsung cukup lama, yakni sekitar 94 menit.

Perbedaan lokasi antar kabupaten di Madura hanya menghasilkan selisih waktu sangat kecil, sekitar dua menit saja, sehingga seluruh wilayah berada dalam zona visibilitas optimal.


Sementara Konklusi

Secara astronomis, fenomena Blood Moon pada 3 Maret 2026 dipastikan terjadi saat fase purnama dengan umur bulan sekitar 13,5 hari.

Perbedaan penyebutan tanggal 13 atau 14 Ramadan sepenuhnya dipengaruhi metode penetapan awal bulan hijriah.

Bagi masyarakat Madura, pertengahan Ramadan 1447 H menjadi momentum langka untuk menyaksikan Gerhana Bulan Total berdurasi panjang dengan kondisi pengamatan yang sangat ideal dan minim perbedaan antarwilayah.


***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan