dimadura
Beranda Tomang Sumenep Pasutri Warga Totosan Batang-Batang Disambar Petir, Suami Tewas

Pasutri Warga Totosan Batang-Batang Disambar Petir, Suami Tewas

Kolase Tempat Kejadian Pasutri Warga Totosan, Batang-Batang, yang Disambar Petir dan Suasana di Rumah Duka (Sc. Video/Istimewa)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP, DIMADURA — Sepasang suami istri (pasutri) warga Desa Totosan, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, menjadi korban sambaran petir saat beristirahat di sebuah warung sawah, Sabtu (7/2) pagi.

Dalam peristiwa tersebut, sang suami meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara istrinya mengalami shock dan harus mendapat perawatan medis.

Korban meninggal diketahui bernama Rahmat Riyanto (50), petani asal Dusun Ares Tengah, Desa Totosan. Sedangkan istrinya, Mahwiya (45), selamat namun mengalami trauma dan segera dilarikan ke Puskesmas Batang-Batang oleh warga setempat.

Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti S, mengatakan kejadian itu terjadi sekitar pukul 07.00 WIB di sebuah warung atau gardu sawah milik korban.

“Korban ditemukan di warung sawah di Dusun Ares Tengah, Desa Totosan. Saat itu korban sedang beristirahat, diduga tersambar petir. Satu korban meninggal dunia di tempat, sementara satu korban lainnya masih hidup dan langsung mendapat pertolongan,” jelas AKP Widiarti S, Sabtu (7/2) sore, dalam keterangan yang diterima media ini.

Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh saksi bernama Toni, yang saat itu hendak menuju sawahnya. Ia mendengar teriakan dari arah warung sawah dan mendapati Rahmat Riyanto telah meninggal dunia, sementara Mahwiya masih dalam kondisi sadar namun shock. Saksi juga melihat stop kontak di warung tersebut dalam kondisi rusak dan terbakar.

Warga kemudian mengevakuasi kedua korban ke rumahnya yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kejadian. Mahwiya selanjutnya dibawa ke Puskesmas Batang-Batang untuk mendapatkan perawatan.

Mendapat laporan tersebut, personel Polsek Batang-Batang langsung mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk melakukan pemeriksaan dan mencatat keterangan para saksi.

AKP Widiarti menambahkan, pihak keluarga korban menolak dilakukan autopsi.

“Keluarga korban menolak autopsi karena menganggap kejadian ini sebagai musibah dan takdir dari Tuhan Yang Maha Esa. Jenazah korban langsung dimakamkan di Desa Totosan,” jelasnya.

Hingga saat ini, Mahwiya masih menjalani perawatan akibat shock pascakejadian, sementara pihak kepolisian mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di area persawahan ketika cuaca ekstrem.

***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

2

Konten Iklan