BUDAYA, DIMADURADialog Budaya bertajuk "Membaca Keris Sumenep" yang berlangsung di Pos Pelayanan Polres Sumenep, tepatnya di sisi barat Terminal Arya Wiraraja, Rabu (25/3) malam, mengupas tuntas sejarah panjang Kota Keris.

 

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber utama: sejarawan Tadjul Arifien R, kurator keris dan pemilik Helmi Art Museum Helmi, serta sesepuh Keraton Sumenep RB Abdurrahman, dengan Ibnu Hajar sebagai host. Turut hadir, Kapolres Sumenep AKBP Anang Hardiyanto.

 

Dalam forum tersebut, Tadjul Arifien R memaparkan perjalanan panjang Sumenep sebagai Kota Keris sejak abad ke-13. Ia menyebut bahwa jejak keris Sumenep bahkan termaktub dalam naskah klasik. 

 

"Sumenep telah memiliki keris sejak tahun 1292 M sebagaimana tertera dalam Serat Pararaton, dengan adanya kridaning besilat dhuwung yang dimainkan Lembusora, Ranggalawe, dan Nambi di Keraton Daha. Mereka membawa keris dari Sumenep,” jelasnya.

 

Tadjul juga menegaskan pentingnya era Arya Wiraraja sebagai tonggak awal pembentukan tradisi perkerisan. Pada masa Arya Wiraraja, jelas dia, pembuat keris di Sumenep adalah Mpu Ida Rsi dari klan Soroh Pande Bali.