Dialah cikal bakal para empu di Sumenep. Dan pada tahun 1380 M, imbuhnya, muncul tokoh besar lain asal Bali yang bernama Mpu Brahmaraja. “Mpu Brahmaraja atau Bujangga Kayumanis dari Bali, adalah empu keris terkenal pada masa Panembahan Wirakrama,” paparnya.

 

Tokoh-tokoh legendaris seperti Jokotole juga disebut memiliki peran ganda sebagai adipati sekaligus empu keris. "Tahun 1415, Jokotole R Aryo Kudopanole adalah Adipati Sumenep sekaligus seorang empu keris," ungkapnya.Manuskrip tentang Keris Sumenep ditulis di atas daun lontar milik kurator keris, Helmi, owner Helmi Art Museum Manuskrip dari daun lontar yang memuat sejarah pekerisan di Sumenep, milik Helmi Art Museum asal Palongan, Bluto (Foto: Tadjul Arifien R./doc.dimadura)

 

Tadjul menambahkan bahwa tradisi perkerisan Sumenep semakin kuat ketika sejumlah tokoh dari luar daerah datang berguru. “Pada 1560, Kyai Supo dari Pajang diperintahkan Sultan Hadiwijaya untuk belajar keris kepada Pangeran Lor di Sumenep. Ia kemudian memiliki banyak murid,” terangnya.

 

Rekam jejak empu keris terus berlanjut hingga abad ke-18. “Pada 1762, Bahaudin Kyai Aryo Kusumonegoro, kakak Panembahan Sumolo, juga merupakan empu keris,” tutur Tadjul.

 

Ia menambahkan, bahwa kisah para empu lokal seperti Gung Macan, Ki Barmabato, Ki Banuaju, Ki Citranala, Ki Barungbung, hingga Ki Pandian, turut membangun fondasi kuat industri keris Sumenep