SUMENEP, DIMADURA — Menjelang pelantikan pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura, sebuah perhelatan bernuansa tradisi digelar di kantor baru organisasi itu, Rabu (12/8) malam. Sholawat, seni, dan pencak silat dipertemukan dalam satu malam yang menjadi ruang silaturahmi warga Nahdliyin.

Kantor baru MWCNU Gapura di kompleks Swalayan Bigi Mart menjadi tempat warga berkumpul. Banjari Gambus Karteka PP Darul Falah dari Lanjuk, Manding, membuka suasana dengan lantunan sholawat.

Setelah itu, giliran para pendekar Pencak Silat Pamor dari Bluto, Pagar Nusa Ababil PP Annuqayah, dan Pagar Nusa Nasional PAC Gapura menunjukkan kepiawaian mereka.

Ketua Tanfidziyah MWCNU Gapura, KH. Moh. Alwi, mengatakan kegiatan tersebut sengaja dikemas dengan pendekatan tradisi dan kebersamaan. Menurut dia, tema yang diusung menjadi pesan tentang bagaimana warga NU merawat hubungan sosial sekaligus menjaga nilai-nilai budaya.

“Ngopeni lalampan, maalos tengka, mabagus tatakrama. Nyambung rassa, nyambung ate, nyambung pekkeran. Agambus, asaloy, agaluy sataretanan,” kata KH. Moh. Alwi dalam bahasa Madura.

Ia menjelaskan, tema tersebut mengandung pesan untuk merawat tradisi, menghaluskan budi pekerti, dan memperbaiki tata krama.

Pada saat yang sama, warga diajak menyambungkan rasa, hati, dan pikiran agar persaudaraan tidak berhenti sebagai slogan.

“Artinya, kita merawat tradisi, menghaluskan budi pekerti, memperbaiki tatakrama, menyambung rasa, hati dan pikiran. Kemudian bergambus, berbaur, dan bergerak bersama dalam rasa persaudaraan,” jelasnya.

Pesan itu terasa dalam rangkaian acara. Musik gambus, sholawat, dan pencak silat hadir berdampingan. Para santri, pendekar, tokoh masyarakat, warga Nahdliyin, serta generasi muda berbaur dalam suasana kekeluargaan.

Salah satu pertunjukan yang menyedot perhatian adalah atraksi pencak silat. Para pendekar memperagakan jurus baku, seni bela diri, serta sejumlah atraksi tradisional. Aksi makan batu, rumput, dan api menjadi bagian dari pertunjukan ketangkasan tersebut.