Pertunjukan itu mengubah halaman kantor baru MWCNU Gapura menjadi panggung rakyat. Batas antara acara organisasi dan perayaan kebudayaan menjadi tipis. Semua larut dalam suasana yang sama.

Di situlah makna pra-pelantikan menemukan bentuknya. Pelantikan memang akan menjadi agenda formal, lengkap dengan struktur kepengurusan dan tanggung jawab organisasi. Namun sebelum itu, MWCNU Gapura memilih memulainya dengan sesuatu yang lebih cair: sholawat, silaturahmi, seni, dan tradisi.

Kantor baru pun memperoleh makna tambahan. “Kantor kita yang baru ini bukan semata alamat administratif bagi organisasi, melainkan titik awal untuk membangun suasana baru dalam menjalankan roda MWCNU Gapura,” pesan Ketua Tanfidziyah.

Kehadiran kelompok seni, pesantren, dan para pendekar, kata dia, memperlihatkan bahwa kehidupan NU di tingkat akar rumput bertaut erat dengan kebudayaan masyarakat. “Tradisi keagamaan, kesenian, pencak silat, pesantren, dan kehidupan sosial berjalan dalam ruang yang sama,” timpalnya.

Bagi MWCNU Gapura, pelantikan yang akan datang menurutnya bakal membawa pekerjaan lebih panjang daripada sekadar pengukuhan kepengurusan.

“Ada tugas merawat hubungan sosial yang telah dibangun, menjaga tradisi, dan menerjemahkan semangat persaudaraan ke dalam kerja organisasi,” pungkasnya.

Malam itu, warga berkumpul, bersholawat, bercengkerama, dan menyaksikan para pendekar memainkan jurus. Sebuah organisasi hendak dilantik. Tetapi sebelum struktur berdiri, hubungan antarmanusia lebih dulu dirajut.

Di Gapura, roda organisasi NU itu hendak dimulai dari pesan yang sederhana: nyambung rassa, nyambung ate, nyambung pekkeran—menyambungkan rasa, hati, dan pikiran.***