Dedi mengapresiasi konsep PKKMB yang tetap memasukkan unsur budaya lokal. 

Penggunaan odheng dan batik dalam kegiatan tersebut dinilai mencerminkan identitas daerah yang tetap dipertahankan di lingkungan kampus.

“Kami mengapresiasi panitia karena khas lokalnya tetap dipakai. Ada yang menggunakan odheng dan batik. Ini menandakan bahwa Universitas PGRI Sumenep tidak meninggalkan budaya lokal,” kata Dedi.

Ia juga meminta mahasiswa tidak minder karena menempuh pendidikan di perguruan tinggi swasta. 

Menurut Dedi, kemampuan dan kompetensi menjadi faktor penting ketika seseorang memasuki dunia kerja.

“Tes itu tidak melihat kalian dari kampus mana, tetapi lulus atau tidak saat mengikuti tes. Yang penting adalah bagaimana kita mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia,” ujarnya.

Dedi menilai rangkaian PKKMB dapat menjadi sarana awal untuk membentuk mental dan kemampuan beradaptasi mahasiswa. 

Ia mengingatkan bahwa tantangan kehidupan setelah lulus akan jauh lebih beragam.

“Ini hanya latihan untuk memperkuat mental. Di luar sana banyak petani yang setiap hari berjemur, ada ojol dan pedagang yang juga bekerja dalam kondisi seperti itu. Jadi, manfaatkan kegiatan ini untuk melatih mental,” kata dia. 

Dedi juga menyampaikan rencana pembangunan Sekolah Rakyat di Kabupaten Sumenep pada Oktober 2026.