Risiko tersebut dapat muncul dari berbagai arah. Bencana gempa, gagal panen, hingga meninggalnya pemilik usaha dapat mengganggu kemampuan debitur memenuhi kewajibannya.
“Dengan adanya penjaminan, risiko yang dihadapi perbankan bisa lebih terkelola. Ini penting agar lembaga perbankan semakin berani menyalurkan pembiayaan kepada masyarakat yang memang memiliki usaha produktif,” tuturnya lebih lanjut.
BMPD Sumenep akan melanjutkan komunikasi antarbank. Koordinasi itu diarahkan agar pembiayaan lebih dekat dengan kebutuhan pelaku usaha.
Menurut dia, ukuran keberhasilan perbankan tidak berhenti pada berapa banyak dana yang disalurkan. Ada mata rantai ekonomi yang hendak dibangun, yakni modal masuk ke usaha, usaha tumbuh, pendapatan meningkat, lalu sebagian pendapatan kembali ke sistem keuangan dalam bentuk tabungan dan investasi.
“Prinsipnya, kami ingin perbankan hadir sebagai mitra masyarakat. Pelaku usaha harus mendapatkan akses permodalan yang sesuai, sehingga usaha mereka bisa berkembang, pendapatan meningkat, dan pada akhirnya memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Sumenep,” tandasnya.***

