SUMENEP, DIMADURA–Pertamina Patra Niaga membantah adanya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite dan Biosolar di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Pertamina menyatakan stok dan kuota kedua jenis BBM tersebut masih tersedia di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), meskipun antrean kendaraan sempat terjadi dalam beberapa hari terakhir.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, membenarkan adanya antrean kendaraan di SPBU 54.694.03 dan SPBU 54.694.01 Sumenep pada 31 Agustus 2026.

Namun, menurut dia, antrean tersebut bukan disebabkan kekosongan stok maupun kuota BBM bersubsidi.

Ahad mengatakan peningkatan mobilitas masyarakat selama musim kemarau turut mendorong kenaikan kebutuhan BBM. Kondisi itu menyebabkan pelayanan di sejumlah SPBU menjadi lebih ramai.

“Berdasarkan hasil pemantauan, stok dan kuota Pertalite maupun Biosolar di SPBU tetap tersedia. Saat ini, kedua SPBU beroperasi seperti biasa dengan kondisi pelayanan ramai namun tetap lancar,” kata Ahad, Rabu (2/9/2026).

Dia memastikan ketersediaan Pertalite dan Biosolar di wilayah Kabupaten Sumenep dalam kondisi aman.

Pertamina, lanjut Ahad, juga terus memantau realisasi penebusan dan permintaan BBM di setiap SPBU. 

Ia mengaku, pemantauan dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan.

Pertamina juga melakukan evaluasi terhadap permintaan BBM secara berkala agar distribusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan membeli BBM sesuai kebutuhan. Untuk informasi maupun pengaduan terkait layanan dan penyaluran BBM, masyarakat dapat menghubungi Pertamina Call Center 135,” ujarnya.

Terpisah, Kepala Bagian Perekonomian dan Sumber Daya Alam (ESDA) Sekretariat Daerah Kabupaten Sumenep, Dadang Dedy Iskandar, juga memastikan antrean kendaraan bukan disebabkan pengurangan kuota BBM bersubsidi.

Menurut Dadang, peningkatan antrean salah satunya dipengaruhi perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite setelah harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.

Selain itu, penerapan pencatatan pembelian menggunakan barcode turut dilakukan di SPBU untuk memastikan penyaluran BBM bersubsidi tepat sasaran.

Dadang mengatakan masyarakat tidak perlu melakukan pembelian secara berlebihan karena kuota BBM bersubsidi untuk Sumenep tidak dikurangi.

“Kami imbau masyarakat tidak panic buying dan tetap tenang, karena BBM bersubsidi tidak ada pengurangan kuota,” kata Dadang.

Ia menegaskan, pemkab sumenep juga terus melakukan pemantauan terhadap SPBU untuk memastikan stok tetap tersedia dan distribusi BBM bersubsidi berjalan sesuai ketentuan.

Dadang menjelaskan jumlah kuota yang diterima setiap SPBU tidak sama. Besaran pasokan disesuaikan dengan kontrak dan alokasi yang telah disepakati bersama Pertamina.

Ketika permintaan meningkat, stok di SPBU tertentu dapat lebih cepat habis. 

Kondisi ini lanjut Dadang, dapat memicu antrean meskipun secara keseluruhan tidak terdapat pengurangan kuota.

Untuk mengantisipasi peningkatan kebutuhan tersebut, Pemkab Sumenep telah mengajukan tambahan kuota BBM bersubsidi kepada Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas).

Jika pengajuan tersebut disetujui, tambahan kuota akan dialokasikan ke sejumlah SPBU di Sumenep.

“Saat ini juga sedang dilakukan penataan agar kuota yang tersedia bisa cukup hingga akhir tahun,” Klaimnya. ***