SUMENEP, DIMADURA – Ada cara hangat untuk merayakan Maulid Nabi. Tanpa meja makan berjarak, peringatan Maulid Nabi di SMPIT Al-Hidayah, Pangarangan, Sumenep, dikemas dengan liwetan, Jumat (18/9/2026) pagi.

Nasi liwet dihampar, guru dan siswa duduk melingkar, lalu makan bersama setelah lantunan salawat dan tausiah selesai.

Tahun ini, Maulid Nabi yang diselenggarakan Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMPIT) Al-Hidayah di bawah pipimpinan Raudlatul Makkiyah, mengusung tema "Meneladani Perjuangan Rasulullah untuk Mewujudkan Generasi yang Berkarakter".

Yang membuat suasana terasa berbeda, nasi liwet sudah tersaji di tengah peserta sejak rangkaian Maulid dimulai. Selama salawat dilantunkan dan tausiah berlangsung, hidangan itu tetap terhampar di tengah majelis.

Ketika tiba waktunya makan, nasi liwet menjadi titik temu. Ustaz, ustadzah, dan siswa-siswi duduk bersama dalam satu hamparan, menyantap makanan dengan suasana akrab dan sederhana, mengingatkan pada tradisi makan bersama ala santri.

Ketua Panitia Maulid Nabi, Darweisy Syauqie, mengatakan liwetan tersebut diharapkan menjadi bagian dari keberkahan peringatan Maulid.

Makanan yang telah berada di tengah majelis selama pembacaan salawat dan doa, diharapkan membawa berkah bagi mereka yang menyantapnya.

“Harapannya, makanan yang sudah dibacakan salawat ini mendapat berkah. Setelah mendengarkan ceramah, kita makan bersama,” kata Darweisy.

Di SMPIT Al-Hidayah, Maulid Nabi menemukan bentuk perayaan yang sederhana, tetapi terasa dekat. Salawat dilantunkan, nasi dihampar, lalu kebersamaan disantap dari satu tempat.

“Kita ingin suasana yang berbeda, tapi tetap dalam keberkahan,” pungkasnya.

Tausiah disampaikan Kiai Izzul Muttaqien M.Th.I., Pengasuh Pondok Pesantren Sambilul Huda, Gaduh Barat, Ganding, Sumenep.

Ia menyampaikan tentang keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, terutama soal kepemimpinan, sikap kepada sesama, serta penghormatan kepada orang tua dan guru.

"Ketika Rasulullah menjadi pemimpin, beliau adil, bersikap baik dan sopan. Tidak pernah membuli, tidak pernah mencemooh, walaupun orang lain mencemooh dan menghina Rasulullah,” katanya.

Pesan yang disampaikan itu dimaksudkan menjadi pengingat bagi siswa untuk menjauhi perilaku membuli dan mencemooh antar sesama.

Menghormati orang tua dan guru juga ditekankan sebagai bagian dari upaya meneladani akhlak Rasulullah.

Usai Maulid dan liwetan, kegiatan berlanjut dengan Pilkasis, atau pemilihan Ketua OSIS SMPIT Al-Hidayah untuk Masa Bakti 2026-2027. ***