Kompas Jalan Kehidupan
Kompas jhâlânna kaoá¸i'ân neng è dhunnya ta' lopot á¸Ã¢ri 2 parkara: jhubâ' beccè', bârâ' tèmor, á¸Ã¢jâ lao', attas bâbâ, lakè' binè', terros ka ponca akhèrra: sowarghâ otabâ naraka.
Bahwa arah tempuh manusia hidup di dunia hanyalah antara 2 jalan: apakah memilih yang jelek atau yang baik, pilih buruk atau bagus. Sebagaimana juga arah mata angin: kita mau berkiblat ke barat atau ke timur, menjangkau yang ada di utara dan yang ada di selatan.
Lanjut, saat berjalan kita menghadap ke depan ataukah ke belakang? Bersosial dengan melihat ke atas ataukah ke bawah? Di sini, manusia lelaki, perempuan, maupun mereka yang berjenis kelamin ganda dipersilakan untuk memilih jalannya masing-masing.
Toh, pada akhirnya, manusia harus memilih surga atau neraka sebagai tempat berpulang.
Bhuppa' Bhâbu' Ghuru Rato
Ghâris laèn, bârâmma carana atèngka á¸Ã¢' bângaseppo sè empa': bhuppa', bhâbbhu', ghuru, rato?
Baca Juga:Kurban Ego Antar Generasi***
Okara bahasa Madura di atas merupakan salah satu saloka kona yang dihimpun para leluhur dengan memeras pelajaran tentang akhlak manusia kepada orang yang paling berjasa kepada dirinya, yakni menjadi sebuah kalimat panastès (nasehat).
Falsafah atau adagium Bhuppa' Bhâbu' Ghuru Rato setidaknya dapat kita maknai sebagai cara bagaimana orang Madura mencurahkan penghormatan kepada rèngtowa sè empa' (orangtua yang empat).
Pertama: Bhuppa'
Bhuppa' atau Bhâpa' disebutkan paling awal sebelum ibu karena bapak merupakan pemimpin keluarga. Dialah kelak yang harus bertanggungjawab atas amal istri dan anak-anaknya di hadapan Allah.
Mengapa rato yang juga bermakna pemimpin tidak disebutkan sebelum bapak? Maka jawabannya adalah karena peran paling bawah sekaligus paling penting dalam bernegara dan beragama adalah pemimpin keluarga.