Baca Juga: 40 Contoh Oca’ Bangsalan Madura dan Cara Memasukkannya dalam Okara
Kedua: Bhâbhu'
Ibu adalah seorang perempuan yang menjadi simbol paling dekat antara anak dan orangtua. Ibu adalah pangeran katon (bayang-bayang tuhan) bagi si anak karena ADA-nya merupakan manifestasi nilai-nilai luhur ketuhanan dan/atau penghambaan manusia kepada tuhannya.
Masyarakat Madura dan orang Indonesia secara umum sangat yakin akan kekeramatan seorang ibu. Mereka para pembesar negara, tokoh, dan ulama terkenal di Indonesia tentu sangat menjunjung tinggi kehormatan ibundanya.
Bolehlah paramaos dimadura coba baca profil para tokoh dan ulama yang derajatnya diangkat oleh Allah sejak di dunia, seperti Kiai Hasyim Asy'ari, Kiai As'ad Samsul Arifin, Kiai Ahmad Dahlan, Kiai Abdurrahman Wahid, Musthafa Bisri, Emha Ainun Nadjib, D Zawawi Imron dan lainnya.
Dari kalangan pejabat negara asal Madura seperti Ketua Banggar DPR RI MH Said Abdullah, Menkumham RI Mahfud MD, hakim agung Artidjo Alkostar (alm.), Nurul Ghufron (Wakil Ketua KPK RI), Ketua MKKE BPK RI Achsanul Qasasi dan lainnya, dapat dipastikan mereka sangatlah tunduk dan taat kepada kedua orangtuanya, terutama perlakuan kepada si ibu selama hidupnya.
Ketiga: Ghuru
Ghuru adalah orang yang menanamkan ilmu dan akhlak dalam diri manusia. Tanpa ilmu, maka amal perbuatan manusia tidak akan terarah pada kebermanfaatan dan kebermaknaan hidup nan sejati.
Dalam hal ini, seluruh guru yang telah mengajarkan ilmu yang baik dan bermanfaat kepada anak manusia, siapapun dia, oleh orang Madura akan mendapatkan perlakuan layaknya orangtua mereka sendiri: sungkem dan takdhim.
Keempat: Rato
Dalam Alquran dan Alhadis, Rato atau Raja juga mendapat kedudukan yang istimewa. Perintahnya wajib dilaksanakan oleh masyarakat atau rakyat yang dipimpinnya, selama itu untuk kebaikan bangsa, negara dan agama.
Amanah yang diembannya penuh risiko. Setiap kebijakan yang menjadi keputusannya kelak akan mendapatkan balasan dari Yang Mahakuasa. Jika baik, maka betapa mulianya dia di dunia dan di akhirat.
Sebab inilah, rato masuk dalam falsafah pilihan orang Madura: Bhuppa' Bhabhu' Ghuru Rato. Masyarakat Madura menyebutnya: orèng towa sè empa'.