BACA JUGA: Sejarah Kota Keris dan Etika Menggunakan Keris ala Masyarakat Sumenep
Setiap jenis topa' tersebut pun memiliki makna filosofis masing-masing, demikian halnya bahan yang dipakai untuk membuat orong ketupat juga menyimpan makna yang unik.
Melansir berbagai sumber, berikut ini filosofi ketupat menurut orang Sumenep, Madura, Jawa Timur, berdasarkan nama, bentuk dan bahannya.
Topa' masèghit (ketupat masjid)
Dikatakan topa' masèghit karena bentuknya menyerupai bangunan masjid serupa wujud kubus dengan bingkai atas bentuk kerucut.
Orang Madura sering menjadikan topa' masèghit sebagai sajian utama pada saat peringatan hari-hari besar Islam, seperti pada malam ke-21 bulan Ramadan atau yang orang Sumenep kenal dengan istilah malem salèkoran.
Topa' masèghit seringkali pula disajikan dengan apen; semacam penganan khas Desa Parsanga Kabupaten Sumenep; terbuat dari santan dan kelapa parut.
Topa' jhârân (ketupat kuda)
Kata jhârân merupakan bahasa Madura yang berarti kuda (hewan). Bahan ketupat (orongnga topa') terbuat dari daun siwalan atau daun kelapa muda.
Penjelasan singkat di atas mengisyaratkan bahwa sejatinya manusia hidup berdampingan dengan alam (hablum min al-alam). Hewan dan tetumbuhan adalah bagian dari semesta dimana kelestariannya penting kita jaga dan merawatnya dangan baik.
