Sesungguhnya, Kyai Ali Fikri punya kekuatan besar, yang saya curigai—ditakuti, sehingga DPP PPP, barangkali, saya mencurigai, "sudah masuk angin". Dalam tanda kutip, terpengaruh oleh lobi atau cara-cara yang tidak demokratis yang bertujuan agar Sumenep hanya muncul satu calon yang rising, yang sesungguhnya bagi saya, demokrasi hanya akan sehat kalau ada lawan tanding yang sepadan.

Bagi saya, lawan tanding yang sepadan itu adalah Kyai Haji Ali Fikri untuk melawan Achmad Fauzi Wongsojudo. Apalagi, misalnya bisa kawin antara kader PKB dengan kader PPP, saya yakin bisa tamat PDIP. Tapi, karena saya mencurigai bahwa PDIP pasti menggandeng partai religius, karena dia butuh basis kultural, dukungan masyayikh dari warga NU, meskipun dia sendiri terbiasa mem-PHP NU ya, warga NU!

Saran saya terhadap Kyai Ali Fikri dan terhadap Partai Persatuan Pembangunan (PPP), kalau ternyata Kiai Haji Ali Fikri dipersulit untuk memperoleh rekomendasi atau restu dari DPP PPP untuk mencalonkan diri sebagai Bupati, maka segera gantung jas PPP, dan bergantilah pada jas lain, yang sudah jelas-jelas bisa untuk men-support, mendukung, memberi rekomendasi kepada Kyai Ali Fikri.

"

Untuk apa merawat partai politik yang selama ini Pak Kyai rawat, yang selama ini Pak Kyai besarkan, yang selama ini Pak Kyai jaga—karena itu warisan ulama, warisan pendahulu—tetapi perlakuannya terhadap Pak Kyai justru sebaliknya?

"

Kyai bertepuk sebelah tangan; Kyai berbuat, partai tidak men-support; itu berbahaya sekali. Kalau betul, kalau benar bahwa DPP PPP tidak memberi rekomendasi kepada Kyai, berilah jangka waktu tidak lama dari sekarang. Jika ternyata rekom PPP  tetap tidak keluar, segeralah gantung jas PPP.

"Itu saran saja, Pak Kyai! Segera berganti jaket almamater dari pantai lain, dan kami yakin Pak Kyai akan mendapatkan dukungan dari warga Sumenep."

Saran saya, kalau kendalanya duit, maka kita patungan, rakyat patungan untuk memperoleh rekomendasi PPP. Kalau tidak, gantung jas PPP.

"