Kenapa saya sampaikan itu? Saya hanya ingin mengetuk hati warga Sumenep; konstituen-konstituen yang secara tidak sadar telah mendukung selama ini terhadap pemimpin politik dari PDIP, sementara tidak paham ada kecenderungan partai-partai religius, yang secara ideologis, secara basis, secara kultur, secara historis, secara psikologis lebih dekat dengan konstituen Nahdlatul Ulama, yaitu PKB dan PPP. Saya hanya ingin mengetuk agar kita semua melek politik.


BACA JUGA:


"

Kira-kira, mengapa sampai saat ini yang tampil ke permukaan seolah-olah hanya ada calon tunggal dalam Pilkada Sumenep 2024?

Sementara ada partai besar yang basis massanya lebih riil secara kultural, yaitu PKB dan PPP—yang sampai saat ini, tidak punya keberanian untuk tampil ke permukaan; mempromosikan kadernya dalam rangka untuk memimpin Kabupaten Sumenep. Kenapa kira-kira?

Dugaan saya, satu hal, saya tidak ingin memberi contoh terhadap Partai Kebangkitan Bangsa, partai ini partai besar ya, di dalamnya yang memimpin adalah kyai ulama kharismatik yang saya segani, dan tidak perlu saya mengkritisi itu. Saya hanya ingin mengkritik satu saja, yaitu Partai Persatuan Pembangunan (PPP), yang sudah jelas terlihat bahwa ketuanya Kyai Haji Ali Fikri.

Beliau itu potensial memperoleh support dari basis yang riil, pendukung yang riil, secara kultural mendukung Kyai Haji Ali Fikri untuk mencalonkan diri sebagai calon Bupati Sumenep. Tapi sampai saat ini, DPP PPP tidak memberikan angin segar untuk merestui Kyai Haji Ali Fikri dalam rangka untuk berlaga di Pilkada Sumenep tahun 201824.

"

Apa indikatornya?

"

Indikatornya terlihat dari kesulitan Kyai Ali Fikri untuk memperoleh 'Surat Tugas' maupun 'Rekomendasi' sebagai Calon Bupati Sumenep 2024—yang apabila rekom PPP itu keluar, sesungguhnya bisa menciptakan suasana yang berbeda dengan suasana sebelumnya, sehingga tidak muncul lagi seolah-olah hanya Ketua DPC PDIP yang punya kekuatan untuk berlaga di Pilkada Sumenep tahun 2024.