Sebelumnya, sudah banyak media yang memberitakan bahwa Bupati Sumenep Ahmad Fauzi Wongsojudo akan membantu pembangunan RSI NU Sumenep, tapi sampai saat ini nggak terealisasi. Itulah balasannya terhadap NU.


BACA JUGA:


Selain itu, ada Nyai Eva yang sekarang menjabat sebagai Wakil Bupati Sumenep. Dahulu, di awal-awal menjabat, Nyai Eva ini berusaha untuk memenuhi janji.

Terutama berkaitan dengan janji akan berkantor di kepulauan, tetapi karena Nyai Eva ini memiliki ceruk massa yang riil, yaitu dukungan dari Muslimat NU, saya melihat ada gejala, bupatinya terganggu.

Terganggunya karena seperti ada dua matahari kembar di Sumenep. Spirit atau semangat energi yang dikeluarkan oleh Nyai Eva, jauh lebih dahsyat daripada yang dikeluarkan energi kerja Bupati, yaitu kader PDIP—yang saat ini menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Sumenep dan sekaligus menjabat sebagai Bupati Sumenep, Achmad Fauzi; yang saat ini namanya bertambah Wongsojudo.

Saya hanya ingin mengajak agar masyarakat Sumenep melek politik. Saya ingin bertanya kepada rekan-rekan, pada netizen, pada masyarakat Sumenep, jika dibandingkan dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dengan PDIP —

Kira-kira menurut saudara, warga NU itu lebih mendukung yang mana? Apakah PDIP, atau PKB dan PPP?

Yang mana PKB dan PPP ini, basis massanya, riil warga NU. Kalau PDIP, itu kalau menurut saya, tidak memiliki basis massa kultural di Sumenep.

Artinya, secara biologis, partai nasionalis ini tidak punya basis massa yang riil, tidak punya basis konstituen yang riil di Sumenep—yang punya basis konstituen yang riil di Sumenep itu adalah partai religius yang punya kedekatan baik secara historis maupun secara psikologis dengan kultur warga NU, yakni PKB dan PPP.

Pertanyaannya, kenapa di dalam pemilihan umum legislatif Sumenep kemarin PDIP bisa memimpin Sumenep, sementara PKB di bawahnya, kemudian PPP juga di bawahnya?

Apa kira-kira yang mempengaruhi? Apakah itu uang, atau basis massa ideologis?