Tanggapan BTN Setengah Hati
Alih-alih menyelesaikan masalah dengan tuntas, Asep Hendrisman, usai pertemuan tertutup dengan Wirya, kepada wartawan hanya menyampaikan permohonan maaf dan menyebutkan bahwa masalah ini hanyalah akibat “miskomunikasi.†Asep menolak untuk membeberkan rincian lebih lanjut, dan hanya mengatakan bahwa kebijakan bank berasal dari pusat, sehingga kantor cabang hanya mengikuti aturan yang ada.
“Saya sudah berbicara dengan Mas Wirya, dan intinya ada miskomunikasi. Jika ada kesalahan dari pihak kami, kami mohon maaf sebesar-besarnya,†ujar Asep dalam pernyataannya di ruang rapat KCP BTN Sumenep, Selasa 3 September 2024.
Pernyataan ini tak banyak menenangkan publik. Kurangnya transparansi dalam penjelasan masalah, serta kegagalan BTN dalam mengelola proses kredit secara profesional, semakin memperkuat dugaan adanya masalah serius dalam sistem internal bank ini. Janji Asep untuk “meningkatkan komunikasi†dengan mitra juga dinilai tidak cukup tanpa adanya perbaikan konkret.
Dampak Terhadap Reputasi BTN dan Pasar
Kasus-kasus seperti ini bukan hanya merusak hubungan antara BTN dan mitra pengembang, tetapi juga berdampak buruk pada kepercayaan publik dan para investor.
Penurunan saham BTN yang terjadi bersamaan dengan merebaknya dugaan skandal perkreditan di BTN Sumenep dan Bangkalan menjadi bukti nyata bahwa pasar mulai kehilangan kepercayaan pada bank milik BUMN tersebut. Investor khawatir, bahwa masalah-masalah yang mencuat adalah indikasi dari sistem yang lebih luas di dalam BTN yang tidak berjalan semestinya.
Dalam jangka panjang, skandal ini bisa berdampak lebih besar pada sektor properti dan ekonomi nasional. BTN, sebagai salah satu bank utama dalam pembiayaan sektor perumahan, memegang peran strategis dalam mendukung program pembangunan perumahan nasional.
Jika bank ini terus terjerat masalah kredibilitas, upaya pemerintah dalam mendorong pemulihan ekonomi pasca-pandemi melalui sektor properti bisa terganggu.
Pemerintah, melalui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI), harus segera turun tangan untuk melakukan investigasi mendalam terhadap kasus ini. BTN perlu mendapat pengawasan ketat agar skandal seperti ini tidak terulang, dan setiap kesalahan dalam pengelolaan kredit dapat segera diperbaiki. Jika tidak, reputasi bank ini akan terus tergerus, mengancam kepercayaan publik dan stabilitas sektor keuangan nasional.
BTN harus segera berbenah, bukan hanya dengan memperbaiki komunikasi dengan mitra-mitranya, tetapi juga dengan melakukan reformasi sistem internal yang lebih menyeluruh.
Bank ini harus membuktikan bahwa mereka masih layak dipercaya, baik oleh mitra pengembang maupun oleh masyarakat luas. Jika tidak, dugaan skandal perkreditan di KCP BTN Sumenep dan Bangkalan akan terus membayangi setiap langkah yang mereka ambil ke depan.***

