Aku menghela napas. "Gue nggak peduli seberapa rumitnya. Gue cuma mau dia bebas. Ada cara lain yang bisa gue coba?"

"Lo bisa nyari orang dalam buat bantu lo. Tapi lo juga harus siap kalau mereka minta sesuatu yang lebih besar dari yang lo bayangkan. Setiap bantuan ada harga yang harus dibayar."

"Berapa pun harganya, gue bayar," kataku, meskipun dalam hati aku bertanya-tanya, seberapa jauh aku siap untuk melangkah.

---

Sore harinya, aku pergi ke klub tempat Octa bekerja. Kali ini bukan untuk bertemu dengannya, tapi untuk berbicara dengan manajer klub. Aku sudah siap dengan uang yang dibutuhkan, namun seperti yang Andri katakan, ini bukan hanya soal angka.

Di depan pintu kantor manajer, aku mengetuk pelan, menunggu izin masuk. Tak lama, pintu terbuka, memperlihatkan seorang pria paruh baya dengan penampilan rapi, namun sorot matanya dingin dan penuh perhitungan.

"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya dengan nada datar, namun jelas menunjukkan bahwa dia tahu siapa aku dan apa tujuanku.

"Aku di sini untuk menyelesaikan hutang Octa," kataku langsung, tanpa basa-basi.

Pria itu mengangkat alisnya, tampak sedikit terkejut namun cepat kembali tenang. "Hutang? Ah, ya, tentu. Tapi Anda harus paham, tempat ini tidak hanya soal uang. Octa adalah salah satu 'aset' kami yang berharga. Jika Anda ingin dia bebas, ada lebih dari sekadar hutang yang harus dibayar."

"Berapa pun yang Anda minta, saya siap membayarnya," jawabku tegas.