Lanjutan Seri Cerpen Octa Bagian 5: Api yang Membakar
Bagian 6: Harga Kebebasan
Malam berlalu dalam diam, tapi pikiranku terus bergejolak. Janjiku kepada Octa menanamkan rasa tanggung jawab yang besar. Di pagi hari, setelah semalaman tak bisa tidur, aku memutuskan untuk segera menyelesaikan masalah ini. Aku menghubungi seorang teman lama, Andri, yang cukup paham dunia gelap ini dan, kuyakin ia bisa memberiku jalan keluar yang cepat.
"Bro, gue butuh bantuan," kataku saat Andri mengangkat telepon.
Andri menghela napas di ujung sana, mungkin sudah terbiasa dengan panggilan darurat dariku, meskipun kali ini masalahnya lebih berat dari biasanya. "Ada apa lagi, Nanda? Lo kayaknya udah sering masuk ke situasi berbahaya belakangan ini."
"Ada seseorang yang perlu gue bantu keluar dari lingkaran gelap. Tapi ini lebih rumit dari biasanya."
Andri terdiam sejenak, kemudian berkata, "Siapa dia? Dan berapa besar masalahnya?"
"Namanya Octa. Dia punya hutang ke tempat di mana dia bekerja, sekitar 50 juta. Gue mau bayarin itu, tapi gue nggak yakin apakah itu cukup buat ngelepasin dia. Lo ngerti maksud gue, kan?"
Andri mendesah panjang. "Lo sadar, kan? Masalah kayak gini nggak cuma soal uang. Mereka yang pegang dia nggak bakal lepasin begitu aja hanya karena hutangnya lunas. Kalau lo mau dia keluar, lo harus siap buat lebih dari sekadar bayar. Ini soal pengaruh, kekuasaan. Tempat kayak gitu jarang ngelepasin orang dengan mudah."
Aku merasakan perutku bergejolak. Meskipun sudah kuduga, mendengar kenyataan ini tetap membuatku merasa seperti terjebak dalam situasi yang lebih buruk daripada yang kukira. "Jadi, gue harus ngapain?"
"Pertama, cari tahu siapa yang sebenarnya mengendalikan tempat itu. Kalau cuma orang-orang kecil, mungkin bisa lo tangani dengan negosiasi atau bahkan intimidasi. Tapi kalau mereka lebih besar dari itu, lo harus hati-hati. Dunia ini penuh dengan jebakan, Nanda."