Dia tersenyum tipis, seolah menganggap ucapanku naif. "Ini bukan soal uang, Tuan Nanda. Octa bukan sekadar pelayan di sini. Dia terikat kontrak, dan kontrak seperti ini... sulit untuk diakhiri."
Aku mulai merasa geram. "Apa yang Anda inginkan?"
Dia bersandar di kursinya, memandangi meja di depannya seolah sedang menimbang sesuatu. "Anda kelihatannya sangat peduli padanya. Saya bisa mengerti itu. Tapi, kami juga punya aturan. Tidak ada yang pergi dari sini tanpa ada sesuatu sebagai pengganti."
Aku mengepalkan tangan di bawah meja, mencoba menahan emosi. "Apa penggantinya?"
Pria itu tersenyum lagi, kali ini dengan sorot mata yang lebih tajam. "Kami ingin jaminan. Sesuatu atau seseorang yang bisa menjadi pengganti Octa di sini. Jika Anda bisa memberikan itu, mungkin kita bisa bicara lebih lanjut."
Aku terkejut mendengar permintaannya. "Pengganti? Maksud Anda?"
"Anggap saja ini seperti barter. Jika Anda tidak ingin dia bekerja di sini lagi, maka Anda harus menemukan seseorang untuk menggantikannya. Atau, jika Anda tidak punya seseorang, maka Anda sendiri yang harus mengambil tempatnya—sementara, tentu saja, sampai kami menemukan pengganti."
Aku terdiam. Kata-katanya mengguncang batinku. Aku tak pernah menyangka situasinya bisa sejauh ini. Menggantikan Octa? Bagaimana bisa aku, seorang pria dengan kehidupan stabil, masuk ke dalam dunia yang kelam ini?
"Apa tidak ada cara lain?" tanyaku, mencoba menemukan celah dalam kesepakatan gila ini.
Pria itu menggeleng, wajahnya penuh kepastian. "Tidak ada cara lain. Kami punya aturan. Anda datang untuk membebaskan seseorang, Anda harus menawarkan sesuatu sebagai gantinya."