Aku merasa terperangkap dalam situasi yang semakin gila. Satu-satunya pilihan yang ada di hadapanku tampaknya hanya dua: menyerahkan seseorang atau masuk ke dalam dunia ini, bahkan jika hanya untuk sementara waktu.

"Tentu, jika Anda butuh waktu untuk berpikir, silakan. Tapi ingat, waktu tidak akan menunggu. Jika Anda tidak segera membuat keputusan, maka situasinya bisa berubah."

---

Malam itu aku kembali ke apartemen dengan kepala penuh beban. Aku mencoba mencari jalan keluar, tapi tidak ada satu pun yang terlihat mudah. Pilihan ini terasa mustahil, namun aku tak bisa mengabaikan janji yang sudah kubuat kepada Octa.

Aku mengirim pesan kepada Andri, menceritakan situasi yang terjadi. Tak lama kemudian, dia membalas.

"Gila lo, bro. Situasi kayak gini biasanya nggak ada jalan mudah. Kalau lo benar-benar mau bantu dia, lo harus siap bayar harganya. Pertanyaannya, lo siap nggak?"

Aku terdiam, membaca pesannya berulang-ulang. Siap atau tidak, aku tahu bahwa ini bukan sekadar soal uang. Ini soal harga kebebasan—harga yang mungkin jauh lebih mahal daripada yang pernah kubayangkan.

---

Bersambung ke Bagian 7: Pertaruhan Terakhir