dimadura
Beranda Lapak Bisnis Teh Tarik Tepi Jalan, Manisnya Perjuangan dan Nostalgia Rasa Thailand

Teh Tarik Tepi Jalan, Manisnya Perjuangan dan Nostalgia Rasa Thailand

Filzah Iqlimah, Peracik “Teh Tarik Tepi Jalan” depan RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep, Siswi Kelas XII SMKN 1 Sumenep (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura)

Di balik segelas teh tarik, tersimpan kisah siswi SMK yang belajar mandiri serta nostalgia seorang penikmat yang kembali teringat pengalaman studinya di Thailand.


Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1BÂRUNG KULINER, DIMADURAKalau paramaos sempat melintas di trotoar jalan depan RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep, di situ kalian bakal menjumpai sebuah lapak kecil bertuliskan Teh Tarik Tepi Jalan.

Dari luar, tampak sederhana. Namun, di balik meja kayu dan gelas plastik yang berjejer, ada cerita menarik dari sang peracik minuman.

Dialah Filzah Iqlimah, siswi kelas 12 SMKN Sumenep, kelahiran 8 September 2007 asal Karangduak. Dengan senyum ramah, ia melayani pelanggan sambil menyiapkan racikan teh tarik.

“Omset per hari biasanya Rp300 sampai Rp500 ribu,” ungkap Filzah, saat diwawancara sambil melayani pelanggannya, Minggu (24/8/2025).

Meski masih duduk di bangku sekolah, ia tak sungkan bekerja membantu usaha orang lain, juga untuk mengasah pengalaman dunia kerja sejak dini.

“Ini punyanya orang, saya kerja aja di sini. Saya masih sekolah, kelas dua belas. Saya kerja hanya hari Jumat sampai Minggu. Jumat hanya sampai siang,” jelasnya.

Belajar Mandiri Sejak Dini

Filzah Iqlimah, Siswi Smkn 1 Sumenep, Peracik Teh Tarik Depan Rsud Dr. Moh. Anwar Sumenep (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura)
Filzah iqlimah, siswi smkn 1 sumenep, peracik teh tarik depan rsud dr. Moh. Anwar sumenep (foto: mazdon/doc. Dimadura)

Bagi Filzah, bekerja di akhir pekan bukan hanya untuk mencari tambahan uang saku. Lebih dari itu, ia belajar mandiri, melatih tanggung jawab, dan menambah pengalaman.

“Saya mulai kerja sejak bulan puasa kemarin. Rasanya senang bisa bantu dan punya pengalaman baru,” katanya.

Keuletan siswi muda ini membuat lapak Teh Tarik Tepi Jalan semakin ramai, apalagi lokasinya strategis di depan rumah sakit terbesar di Sumenep.

Segelas Teh Tarik, Sejuta Kenangan

Pelanggan Teh Tarik Tepi Jalan, Miftahol Hendra Efendi (Kanan) Dan Subaidi Pratama (Kiri), Saat Beli Teh Tarik Racikan Filzah Iqlimah, Minggu 24 Agustus 2025 (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura)
Pelanggan teh tarik tepi jalan, miftahol hendra efendi (kanan) dan subaidi pratama (kiri), saat beli teh tarik racikan filzah iqlimah, minggu 24 agustus 2025 (foto: mazdon/doc. Dimadura)

Di antara pembeli yang datang, ada Miftahol Hendra Efendi, seorang jurnalis yang punya hubungan khusus dengan minuman ini.

Bagi dia, menyeruput teh tarik adalah menghidupkan kembali kenangan saat studi di Thailand tahun 2017 silam.

“Jadi saya kenal teh tarik pertama kali saat ke Thailand. Waktu itu tugas kuliah bareng istri studi komparatif ke sana,” katanya.

Momen mencicipi teh tarik di Negeri Gajah Putih begitu membekas. “Kok enak ya. Beberapa tahun setelahnya, saat banyak yang jual teh tarik di Sumenep, saya jadi nostalgia. Rasanya seperti kembali ke masa itu,” tutur pria berkacamata itu sambil menyeruput pesanannya.

Teh Tarik Indonesia vs Thailand

Istri M Hendra Efendi, Yuli Mariyatur Rahmah, Beli Teh Tarik Khas Thailand Di Pattaya (Foto: Doc. Dimadura)
Istri m hendra efendi, yuli mariyatur rahmah, beli teh tarik khas thailand di pattaya (foto: doc. Dimadura)

Menurutnya, teh tarik di Indonesia berbeda jauh dengan yang ada di Thailand.

Indonesia (Sumenep): memakai gula aren atau tangguli khas Madura. Rasanya manis dominan, harus diaduk agar bercampur rata.

Thailand: murni dari daun teh atau rempah dedaunan. Disajikan dalam cangkir, menghasilkan gelembung di permukaan, dan biasanya dipaketkan dengan roti canai.

“Kalau di Thailand, teh tarik itu pure, manis alami dari daun tehnya. Kalau di sini, manisnya dari gula tambahan, bahkan pakai susu dan gula aren,” jelasnya.

Nostalgia Pattaya dan Pattani

Miftahol Hendra Efendi Saat Berkunjung Ke Thailand, Pose Di Yala, Thailand Tahun 2017 Silam (Foto: M Hendra Efendi For Dimadura)
Miftahol hendra efendi saat berkunjung ke thailand, pose di yala, thailand tahun 2017 silam (foto: m hendra efendi for dimadura)

Hendra masih ingat, teh tarik begitu populer di Pattaya dan Pattani. Harganya saat itu sekitar Rp17 ribuan sudah sepaket dengan roti canai.

“Di sana bukan pakai gelas, tapi pakai cangkir. Kalau dihisap, gelembungnya itu nggak habis, masih tebal gitu, seperti cintaku sama istri,” kenangnya.

Pengalaman Belajar di Thailand

Kufuk: M Hendra Efendi Bersama Istri, Yuli Mariyatur Rahmah, Abadikan Momen Di Negeri Gajah Putih (Foto: Doc. Dimadura)
Kufuk: m hendra efendi bersama istri, yuli mariyatur rahmah, abadikan momen di negeri gajah putih (foto: doc. Dimadura)

Selain kenangan kuliner, ia juga membawa pulang pengalaman pendidikan. “Di sana pendidikan lebih menekankan karakter daripada ilmu pengetahuan. Bahasa pengantar hanya Thai, mereka tidak paham bahasa internasional. Kami mencoba mengenalkan pentingnya bahasa luar,” tuturnya.

Ia bahkan ditempatkan di sebuah pulau kecil dekat perbatasan Malaysia. Sistem pendidikannya unik, semua usia bisa bersekolah dalam satu lembaga.

“Umur berapa pun boleh sekolah, dan masih banyak anak-anak yang belum mengenyam pendidikan dasar,” ungkapnya.

“Tapi itu tahun 2017 ya, entah sekarang seperti apa, kita belum sempat ke sana lagi,” imbuhnya.

Teh Tarik di Indonesia Baru Booming Tahun 2020

Temmy P, Jurnalis Anggota Pwi Sumenep Yang Bertugas Sebagai Wartawan Beritajatim.com, Melintas Depan Teh Tarik Tepi Jalan Depan Rsud Dr. Moh. Anwar (Foto: Mazdon/Doc. Dimadura)
Temmy p, jurnalis anggota pwi sumenep yang bertugas sebagai wartawan beritajatim. Com, melintas depan teh tarik tepi jalan depan rsud dr. Moh. Anwar (foto: mazdon/doc. Dimadura)

Fenomena teh tarik di Indonesia, menurutnya, baru booming sekitar 2020. Namun, rasanya berbeda.

“Kalau di Indonesia, plusnya ya manis semua. Minusnya tidak ada keseimbangan. Kalau di Thailand, ada harmoni antara rasa teh murni dengan tarikan gelembungnya,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Minuman

Kisah Filzah dan Hendra memperlihatkan dua sisi yang berbeda namun bertemu dalam segelas teh tarik.

Bagi Filzah, ia belajar kemandirian lewat pekerjaan sederhana di tepi jalan.

Sementara bagi Hendra, segelas teh tarik adalah jembatan nostalgia yang membawanya kembali ke Negeri Gajah Putih.

Yap, di lapak kecil depan RSUD Sumenep, teh tarik telah menceritakan perjuangan, rasa, dan kenangan.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan