Polisi Bilang DPO Maya Sulit Terlacak, Alasan Kasus Bank Jatim Sumenep Berlarut-larut Puluhan Bulan?
EDITORIAL, DIMADURA – Kasus dugaan korupsi Rp23 miliar di Bank Jatim Cabang Sumenep seperti jalan di tempat. Waktu terus bergerak. Status hukum sudah ditetapkan. Satu tersangka kunci justru disebut menghilang tanpa jejak.
“Sulit Terlacak,” kata Penyidik Tipikor Polres Sumenep, Iptu Hariyanto, beberapa waktu lalu.
Keren abis nih si DPO Maya Puspitasari, eks marketing Bank Jatim Sumenep. Ia disebut belum pernah duduk di hadapan penyidik. Sejak masih berstatus saksi, ia tidak kooperatif.
“Pemanggilan berulang tidak direspons. Statusnya naik menjadi tersangka. Lalu berubah menjadi DPO. Hasilnya tetap sama. Tidak ditemukan,” lanjut Iptu Hariyanto.
“Sejak awal memang tidak kooperatif, beberapa kali dipanggil tapi tidak hadir,” tambahnya.
Polisi menyatakan telah melakukan pelacakan. Resmob dilibatkan. Nomor keluarga dipantau. Jejak relasi ditelusuri. Namun seorang tersangka yang disebut minim aktivitas komunikasi tetap menjadi titik buntu.
Kesannya seperti nonton kisah Army of Thieves (2021), film komedi pembobol brankas jenius di awal mula wabah zombie. Aktor yang memang licin, atau sengaja dibikin licin oleh sang sutradara?
Ya. Kasus ini seperti kehilangan separuh cerita. Maya menjadi simpul penting. Ia disebut mengetahui alur distribusi mesin EDC. Ia berada di jalur administrasi dan pemasaran. Ia memiliki akses pada mekanisme internal. Ketika sosok ini tak tersentuh, potongan puzzle lain ikut mengabur.
Pada saat yang sama, tersangka lain, Fajar, Owner Bang Alief, berada dalam kondisi berbeda. Ia tidak menghilang. Ia tidak menjadi buronan. Statusnya sebagai tahanan luar mempertegas perbedaan itu.
Perbedaan ini memantik tanya. Satu pihak tidak terlacak. Pihak lain tetap dalam kendali hukum. Pihak yang disebut pelaksana terlihat lebih mudah dijangkau. Sosok yang diduga punya akses internal justru belum tersentuh.
Kritik pun dilayangkan kuasa hukum Bang Alief, Kamarullah. Ia melihat ada bagian yang janggal, menilai kasus ini tidak sederhana. Ada ruang yang belum disentuh. Ada pihak yang belum ditarik masuk.
“Kemana mereka setelah selesai cuti, kok bisa ini berjalan sampai empat tahun,” tanya Kama penasaran.
Pernyataan itu berkaitan dengan fakta sebelumnya. Sistem perbankan disebut gagal mendeteksi transaksi selama bertahun-tahun. Nilainya besar. Transaksi berjalan rutin. Angka terus bertambah. Pengawasan tidak terlihat hadir.
Pada titik ini, narasi penegakan hukum tampak timpang. Satu sisi berbicara tentang pelanggaran individu. Sisi lain menyisakan pertanyaan pada fungsi kontrol institusi.
Kondisi tersebut memicu kecurigaan publik. Muncul dugaan adanya lapisan cerita yang belum terbuka. Tersangka yang belum tertangkap disebut sebagai kunci.
“Kalau memang serius diburon, saya sangat yakin polisi bisa dengan mudah menemukannya,” kata aktivis Foraksi, Moh. Nurul Hidayatullah.
Nada kritik itu disampaikan Foraksi seperti sedang mempertanyakan beberapa hal sekaligus. Soal kemampuan teknis pelacakan. Soal keseriusan juga. Soal prioritas iya. Lebih-lebih pada arah penanganan perkara yang masih entah.
Waktu berjalan hingga puluhan bulan. Publik mulai membaca pola. Kasus besar dengan angka mencolok. Sistem disebut gagal. Tersangka menghilang. Tersangka lain tetap ada. Proses hukum belum menyentuh seluruh lapisan.
Semua itu membentuk satu kesan. Lambat. Berputar. Belum tuntas.
Kasus ini bukan hanya soal Rp23 miliar. Ini soal kepercayaan. Ini soal cara sistem bekerja. Ini soal penegakan hukum yang tidak berhenti pada bagian paling mudah.
Selama Maya belum ditemukan, selama peran internal belum terbuka, dan selama arah penanganan masih berkutat di titik yang sama, cerita ini akan terus berulang. Panjang. Melelahkan. Menyisakan lebih banyak tanda tanya.
Salah satu pertanyaan yang barangkali pantas diungkap misal begini: “Pada rentang masa kepemimpinan siapa DPO Maya dan Bang Alief bisa lancar beraksi bobol sistem Bank Jatim?”
Dugaan redaksi dimadura.id, berdasarkan informasi yang belum terverifikasi, DPO Maya adalah eks karyawan di era kepemimpinan suami salah-satu orang penting di lingkungan Polres Sumenep.
Informasi tersebut wajib diuji validitasnya di berita selanjutnya. Setidaknya, untuk membantu pihak kepolisian agar melakukan pengembangan yang seharusnya. Agar kasus ini tidak menguap begitu lama.
***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow





