Jumlah Siswa Sekolah Rakyat di Sumenep Masih 81 Orang, Ini Kendalanya
NEWS SUMENEP, DIMADURA–Proses rekrutmen siswa Sekolah Rakyat (SR) di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, melalui Petugas Program Keluarga Harapan (PKH) terus mengalami perkembangan.
Hingga saat ini, jumlah calon siswa yang berhasil direkrut mencapai 81 orang dari jenjang sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Koordinator Pendamping PKH Kabupaten Sumenep, Khairullah, mengatakan bahwa pencarian dan seleksi siswa Sekolah Rakyat masih menjadi bagian dari tugas pendamping PKH di lapangan.
“Untuk fungsi pencarian siswa Sekolah Rakyat masih melekat pada SDM PKH. Progresnya terus bertambah. Kemarin bertambah dua orang, sehingga total saat ini sudah 81 siswa, terdiri dari 41 siswa SD dan 40 siswa SMP,” kata Khairullah, Selasa (27/1/26).
Menurut Khairullah, Kementerian Sosial telah memberikan target kepada para pendamping PKH untuk memenuhi kuota penerimaan siswa.
Target rekrutmen ditetapkan sebanyak 100 siswa, masing-masing dua rombongan belajar (rombel) untuk jenjang SD dan SMP.
“Target kami dua rombel SD dan dua rombel SMP, untuk tahun kemarin masuk pada tahun ajaran 2025–2026 dengan totalnya target 100 siswa,” ucapya.
Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga dengan tingkat kesejahteraan rendah, khususnya yang masuk dalam kategori desil 1 dan 2, serta anak-anak yang mengalami putus sekolah. Namun, dalam kondisi tertentu, anak yang tidak putus sekolah tetapi memiliki potensi besar putus sekolah juga dapat direkrut.
“Prioritas tetap anak putus sekolah dari keluarga miskin. Tapi jika ada anak yang tidak putus sekolah namun memiliki potensi besar putus sekolah, itu juga bisa direkrut, tentunya dengan persetujuan orang tua dan siswa,” jelas dia.
Khairullah menegaskan bahwa proses perekrutan tidak dilakukan secara sepihak. Orang tua dan siswa harus menandatangani surat pernyataan kesediaan sebelum masuk ke Sekolah Rakyat.
Ia mengakui, salah satu kendala utama dalam proses rekrutmen adalah keraguan dari orang tua dan anak, terutama karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem asrama.
“Banyak orang tua yang merasa tidak tega karena harus berpisah dengan anak. Ada juga anak yang belum sanggup berpisah dari orang tuanya. Ini menjadi kendala yang cukup dominan,” ujarnya.
Meski demikian, Khairullah menambahkan bahwa orang tua tetap diperbolehkan menjenguk anaknya secara rutin setiap pekan.
Selain itu, ia menyebut bahwa Sekolah Rakyat memiliki konsep pendidikan yang berbeda dengan penekanan pada kedisiplinan dan pemenuhan kebutuhan dasar siswa.
“Di Sekolah Rakyat kedisiplinan cukup tinggi, termasuk pengaturan makan dan aktivitas harian. Namun, sejak awal memang sempat muncul salah paham di masyarakat yang menganggap Sekolah Rakyat sebagai pesaing sekolah lain,” terang dia.
Menurut Khairullah, anggapan tersebut tidak tepat karena Sekolah Rakyat hanya ditujukan bagi kelompok tertentu dan tidak terbuka untuk umum dan konsep yang berbeda.
“Sekolah Rakyat bukan untuk semua orang, tetapi untuk anak-anak dengan kebutuhan khusus secara sosial dan ekonomi,” tegas dia.
Lebih lanjut, pihaknya menyampaikan, hingga saat ini, target rekrutmen 100 siswa masih belum sepenuhnya tercapai.
”Benar, target belum tercapai sepenuhnya,” pungkasnya.***
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow




