BAHASA, DIMADURA – Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-guluk, KH. Abd Basith Abdullah Sajjad, pernah menyampaikan kalimat pendek yang sanggup menegur panjangnya hasrat manusia.
“Jika butuh satu, kenapa minta seribu?”
Demikian bunyi kalimat pendek filosofis kata mendiang KH. Abd Basith ABAS. Kata-kata yang dalam istilah Bahasa Madura bisa dikategorikan sebagai saloka kona.
Saloka itu menyimpan kritik yang tajam terhadap kecenderungan manusia untuk meminta lebih daripada yang dibutuhkan.
Dalam dua sajak pendek karya Usman, pemerhati dan pelestari Bahasa Madura, gagasan itu juga menemukan bentuk yang jenaka sekaligus filosofis.
Usman, anggota Komunitas Abdhi Dhâlem, Sumenep, yang diasuh H. Abdir Arifin, menuliskan sajaknya melalui aksara Carakan dengan desain yang berbicara tentang kopi dan bakso.
Pada desain pertama, ia menulis:
KOPI
Ekarassa kobassa
Polana sacangker, banne sagentong.
Baca Juga:Kenali Contoh Kata Antonim Bahasa Madura

Dalam aksara Latin, artinya kira-kira begini: Kerasa nikmat karena satu cangkir, bukan satu kendi.
Di sini, Usman seperti sedang menyelipkan filsafat cukup ke dalam secangkir kopi; bahwa nikmat menurutnya tidak ditentukan oleh seberapa banyak sesuatu tersedia. Kopi tetap kopi. Ia disebut kopi nikmat justru karena ukurannya tidak berlebihan.
Pada desain kedua, ia menulis:
BA'SO.
Ekarassa nyaman
Polana satobung, banne sajembung.

Kopi dan bakso berbeda. Tetapi keduanya berhenti pada gagasan yang sama: ukuran yang menentukan pengalaman.
Satu cangkir. Satu mangkok. Bukan satu kendi. Bukan seloyang.
Di situlah sajak Usman bertemu dengan wejangan KH. Abd Basith: Jika butuh satu, kenapa minta seribu?
Pertanyaan itu sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada orang yang meminta sesuatu. Ia juga layak diajukan kepada diri sendiri.
Berapa banyak yang kita kejar karena memang membutuhkan, dan berapa banyak yang kita inginkan hanya karena belum merasa cukup?
Manusia sering mengubah kebutuhan menjadi keinginan, lalu keinginan menjadi ukuran keberhasilan.
Yang diperlukan satu, diminta sepuluh. Yang cukup sedikit, dikumpulkan sebanyak-banyaknya.
Pada akhirnya, kita tidak lagi menikmati apa yang dimiliki, tetapi sibuk menghitung apa yang belum ada.
Secangkir kopi memberi batas pada kenikmatan. Semangkuk bakso memberi batas pada selera. Batas itu bukan kekurangan. Ia justru memungkinkan sesuatu dinikmati secara utuh.
Barangkali demikian pula hidup. Kita tidak selalu membutuhkan lebih banyak. Kita membutuhkan kemampuan untuk mengenali batas antara cukup dan kurang, kebutuhan dan keserakahan, menikmati dan menumpuk.
Menariknya, renungan itu disampaikan Usman melalui Carakan Madura. Aksara yang menyimpan jejak kebudayaan itu tidak dibiarkan menjadi peninggalan masa lalu.
Carakan dipakai untuk membaca kehidupan hari ini, bahkan melalui perkara sesederhana kopi dan bakso.
Di tangan Usman, Carakan menjadi lebih dari aksara. Ia menjadi jalan untuk mengingat bahwa bahasa dan kebudayaan dapat menyimpan filsafat hidup dalam kalimat yang sangat sederhana.
Secangkir kopi. Semangkuk bakso. Satu kebutuhan. Bukan seribu.
Mungkin memang begitu cara paling sederhana untuk memahami CUKUP: "Jika satu sudah membuat kita nikmat, untuk apa meminta seribu?" ***

