Menurut dia, hafalan Al-Qur’an mengandung tanggung jawab moral yang harus diwujudkan dalam kehidupan sosial.

Bagi Achmad Muhlis, semakin banyak ayat yang dihafalkan, semakin besar pula tanggung jawab santri untuk memahami dan mengamalkan kandungannya. 

Karena itu, keberhasilan pendidikan Al-Qur’an tidak semata-mata diukur dari jumlah hafalan, tetapi juga dari sejauh mana nilai-nilai tersebut membentuk akhlak.

Tradisi I’lan Tasmi’ al-Qur’an juga memperlihatkan bahwa pendidikan pesantren tumbuh melalui keterlibatan banyak pihak. 

Pembimbing, lembaga pendidikan, sesama santri, dan orang tua memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kemampuan akademik sekaligus spiritual.

Melalui kegiatan yang berlangsung secara berkelanjutan, IBS PKMKK berupaya membangun kultur keilmuan yang berakar pada tradisi pesantren. 

Hafalan menjadi pintu masuk untuk memperdalam pemahaman, sedangkan pemahaman diharapkan melahirkan kesadaran dan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai keislaman.

Achmad Muhlis berharap tradisi tersebut terus berkembang, tidak hanya dalam peningkatan jumlah hafalan, tetapi juga dalam penghayatan dan pengamalannya. 

"Pendidikan Al-Qur’an dapat melahirkan generasi yang tidak sekadar fasih melantunkan ayat, tetapi juga mampu menghadirkan nilai-nilainya dalam kehidupan bermasyarakat," tutupnya. ***