INISIAL atau INI SIAL
Kolom: Wakid Maulana *)
KOLOM, OKARA – Menurut KBBI, inisial adalah huruf pertama dari susunan kata yang menisbatkan kepada nama seseorang, lembaga, atau lainnya. Sedangkan ini sial adalah gabungan kata: ini sebagai penunjuk dan sial yang berarti malapetaka.
Dua istilah ini jelas berbeda. Namun, ketika diucapkan, bunyinya bisa terdengar sama. Dan di negeri ini, inisial seringkali berubah makna jadi ini sial.
Contoh paling fenomenal adalah inisial S. Belakangan ini ramai dibicarakan. Bukan karena prestasi, melainkan karena aksinya yang bikin gaduh. Bayangkan, ia disebut-sebut tega “mengencingi” pemimpinnya sendiri.
Kisah ini sebenarnya mirip dengan perbedaan antara simbol $ dan Rp. $ itu lincah, gesit, peka, bahkan rakus. Rp? Ia cenderung pasrah, menunggu belas kasih, rela duduk di pojok di bawah ketiak $.
Tapi tunggu dulu. Kita tidak sedang membicarakan mata uang.
Kita sedang membicarakan seorang manusia. Seseorang yang hidup di lingkar kekuasaan. Yang berinisial S.
Ia tidak hanya diberi amanah, tapi juga dipercaya mengelola sesuatu yang dianggap “bantuan akhirat”. Harusnya, ia menjadi penjaga moral. Namun, realitas berkata lain: ia menjelma bak Sengkuni di Konoha bagian timur.
Hampir semua urusan besar kecil tak bisa lepas darinya.
Ia yang mengatur.
Ia yang menentukan.
Ia yang menarik benang di balik layar.
Bukan karena ia hebat.
Bukan karena ia cerdas.
Tetapi karena ia lihai menunggangi kekuasaan.
Puncak kelicikannya terjadi baru-baru ini.
Pemimpin tertinggi sudah mengeluarkan surat imbauan. Harusnya surat itu dijalankan dengan tulus, untuk rakyat, untuk kebaikan bersama.
Namun di tangan inisial S, surat itu berubah rupa. Dari imbauan jadi karcis. Dari amanah jadi ladang cuan.
Para penyewa ditekan. Pabrikan ditagih.
Seolah-olah restu pemimpin bisa dijual eceran.
Seolah nama besar pemimpin hanyalah merek dagang.
Lalu pertanyaannya: apakah pemimpin menyadarinya?
Bahwa orang kepercayaannya itu sedang memperjualbelikan wibawanya?
Maaf, ia bahkan sudah “mengencinginya” telanjang di depan publik?
Jika pemimpin masih diam, ia bukan sekadar dikhianati. Ia sedang dipermalukan.
Lebih bahaya lagi, inisial S merasa kebal.
Merasa punya kendali terhadap wartawan.
Merasa bisa mengatur agenda.
Merasa aman dari segala hal.
Dan rakyat?
Hanya bisa menatap getir. Melihat amanah dijadikan komoditas. Melihat moral dijual murah.
Padahal, inisial S sedang menanam bom waktu. Bom ketidakpercayaan. Ketika rakyat sadar surat suci bisa diperjualbelikan, maka runtuhlah semua wibawa.
Hari ini, inisial S menjadikan nama besar pemimpin sebagai mesin pencetak uang. Ia mengatur negeri Konoha bagian timur. Ia menjual surat imbauan tertinggi. Dan ia tertawa sambil “mengencingi” pemimpin di depan rakyatnya sendiri.
Kalau pemimpin tidak segera sadar, bukan hanya dia yang dihina. Seluruh negeri ikut terciprati.
Maka benarlah pepatah satir ini:
INISIAL bisa jadi INI SIAL.
Salam waras untuk kita!
Wakid Maulana, Jurnalis Sumenep. Lahir di pelosok desa paling timur Pulau Madura. Aktif ngopi dan liputan. Medsos: @reng_paseser
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow






