dimadura
Beranda Okara Kolom Karena Ngopi Saja Nggak Cukup

Karena Ngopi Saja Nggak Cukup

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1KOLOM OKARA, DIMADURA —Cerita ini, jujur saja, saya sendiri bingung mau mulai dari mana. Bukan karena nggak ada cerita, tapi karena terlalu banyak cerita yang ingin diceritakan.

Ini berangkat dari sesuatu yang sederhana—obrolan kecil-kecilan, urun rembuk antara sesama pemuda, yang mungkin sekilas cuma kayak wacana warung kopi biasa. Tapi ternyata, dari situlah api semangat mulai menyala.

Idenya simpel: bikin acara malam Tellasan 7—atau Tellasan Topa’, begitu orang kampung sini menyebutnya. Acaranya tak terlalu muluk-muluk selevel festival budaya nasional atau Parade Daul Combodug seperti halnya di Sampang. Cukup bakar-bakar, berjimbun ornamen lampu, dan sound system buat sedikit karaoke kecil-kecilan.

Simpel, merakyat, tapi berpotensi besar jadi momen kebersamaan yang langka. Karena kapan lagi pemuda bisa kompak, selain kalau ada acara yang berujung makan-makan?

Dengan i’tikad yang bulat dan semangat gotong-royong yang nggak cuma jadi jargon, parembhâghân alias rapat kecil itu akhirnya bisa jadi kenyataan. Nggak cuma sekadar bakar-bakar atau karaokean, acara ini ternyata punya nyawa dan makna.

Lambat laun, parembhâghân pun berkembang. Dari yang awalnya hanya malam tellasan dengan suasana santai, kemudian disulap jadi acara yang lebih tertata.

Ada seremonialnya juga. Kita undang tokoh masyarakat, kita gelar tahlilan dan solawatan bareng. Biar nggak cuma perut yang kenyang, tapi juga hati yang damai dan tentram.

Teriring semangat kekompakan yang mulai mengakar, obrolan-obrolan kecil yang dulunya sekadar buang waktu kini berubah jadi sumber energi kolektif.

Di tengah gemerlap lampu yang meriah, kami menyadari satu hal penting: ternyata, jadi pemuda itu bukan sekadar nunggu waktu tua sambil rebahan.

Kami tertegun, apalagi ketika mendengar wejangan K. Kholid Amir yang menyampaikan dengan tenang namun penuh makna, “Pemuda itu harus bertindak positif dan memberikan kontribusi baik terhadap sosial.”

Ucapan itu tak sekadar petuah, tapi juga cermin yang memantulkan realitas pemuda hari ini—di mana banyak yang terjebak dalam euforia dunia digital, namun kehilangan koneksi dengan realitas sosial di sekelilingnya.

Di tengah gempuran tren dan distraksi yang datang silih berganti—dari scroll TikTok tanpa henti hingga debat kusir di kolom komentar—pemuda hari ini memang dihadapkan pada tantangan baru: Bagaimana tetap relevan dan produktif tanpa kehilangan pijakan sosial.

Tak sedikit yang merasa cukup menjadi penonton aktif di media sosial, padahal realitas masyarakat menuntut kehadiran nyata, aksi konkret, dan semangat kolektif.

Momentum seperti Tellasan Topa’ menjadi ruang kecil yang justru menghadirkan makna besar. Bahwa keterlibatan pemuda tak harus selalu berbalut gelar, panggung besar, atau viralitas.

Cukup dari langkah-langkah kecil yang konsisten, dari momen kebersamaan yang dirawat, dari komitmen sederhana yang dijalankan bersama.

Seperti yang disampaikan oleh sosiolog Imam B. Prasodjo, “Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang berhasil membentuk modal sosial sejak dini, dan peran pemuda adalah fondasi utama dalam pembangunan itu.”

Dan benar adanya, dari api semangat yang menyala lewat parembegen kecil itu, kami percaya bahwa kebersamaan adalah modal awal perubahan.

Karena pada akhirnya, budaya kompak tak lahir dari seruan kosong, tapi dari kesediaan saling menggenggam, berjalan bersama, dan melihat masa depan dengan mata yang sama—meski dari latar yang berbeda.

Pada akhirnya, kami belajar bahwa kekompakan bukan barang mewah yang cuma bisa diraih lewat seminar kepemudaan berbiaya mahal atau proyek-proyek berskala nasional.

Kadang, ia lahir dari acara sederhana di bawah lampu hias seadanya, dari obrolan receh yang pelan-pelan menjelma jadi kesepakatan tulus, dan dari rapat kecil yang lebih banyak tawa dibanding notulensi.

Sebagaimana pernah dikatakan Gus Mus, “Kalau hanya mengandalkan kepintaran, robot juga pintar. Tapi yang membuat manusia itu mulia adalah rasa dan kebersamaannya.”

Nah, rasa-rasa inilah yang kami temukan di Tellasan Topa’. Sebuah malam sederhana, tapi hangatnya bisa bertahan lama di hati. Nggak cuma karena makanannya, tapi karena rasa punya bersama yang tumbuh perlahan dan kolektif.

Jadi, kalau kamu masih merasa gerakan pemuda itu harus viral dulu baru layak dianggap, mungkin kamu cuma butuh satu malam Tellasan. Malam di mana nyanyian sumbang dan gelak tawa bisa jauh lebih menyentuh dibanding orasi berapi-api di podium kosong.

Karena memang betul, ngopi saja nggak cukup. Tapi kalau ngopinya sambil nyusun ide bareng dan turun tangan bikin perubahan kecil—itu baru namanya GERAKAN! Salam..


M. Faizi Pemuda Bragung Jurnalis Serikatnews*) M. Faizi, bukan M Faizi. Lahir pada 5 Februari 1998 di Desa Bragung, seorang pemuda yang aktif sebagai jurnalis di Media Serikatnews dan merupakan alumnus Pondok Pesantren Annuqayah, Guluk-Guluk, Sumenep, Madura.

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan