dimadura
Beranda Gardu Jika Merah Putih Adalah Harga Mati, Maka Lindungilah Tanah Air Yang Mengibarkannya

Jika Merah Putih Adalah Harga Mati, Maka Lindungilah Tanah Air Yang Mengibarkannya

Catatan Pena Hidayatullah: Aktivis PMII, Ketua BEM Universitas PGRI Sumenep

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, kembali memperlihatkan ironi yang menyedihkan.

‎Di tengah keresahan dan keterjepitan hidup masyarakat terutama di wilayah kepulauan mereka justru sibuk mengurusi hal-hal simbolik.

‎Mengibarkan bendera selain merah-putih dianggap sebagai kesalahan. Nasionalisme kami dipertanyakan hanya karena kami menunjukkan kekecewaan.

‎Padahal, yang jauh lebih menyakitkan adalah: pemerintah sendiri justru mengkhianati merah-putih itu, dengan terus memberi ruang bagi pihak asing mengeksploitasi sumber daya alam kami terutama migas tanpa kontribusi nyata yang dirasakan masyarakat kepulauan.

‎Boleh saja pemerintah menertibkan warga yang “tak sesuai prosedur”, tetapi jangan pura-pura lupa: yang lebih menyakitkan bukanlah soal bendera, melainkan bagaimana kami, masyarakat kepulauan, perlahan kehilangan kedaulatan atas tanah kami sendiri.

‎Apa makna merah-putih jika sumber daya alam kami dikuasai korporasi? Apa arti nasionalisme jika rakyat hanya menjadi penonton di panggung penderitaan?
‎Kami, mahasiswa Universitas PGRI Sumenep, tidak akan tinggal diam melihat ironi ini.

‎Kami tegaskan:

‎-Bahwa kami tidak butuh seremonial nasionalisme, jika rakyat tetap menjadi korban kebijakan.

‎-Kami tidak butuh digurui soal cinta tanah air, jika para pemimpin daerah justru menjadi makelar tanah air itu sendiri.

‎-Kami tidak akan berdiam diri melihat Sumenep terutama wilayah kepulauan terus diperlakukan seperti halaman belakang yang dilupakan, apalagi saat investor datang membawa proposal racun berbungkus manis.

‎-Dan kami menolak nasionalisme palsu.
‎Kami menolak simbolisme kosong.
‎Kami menuntut keadilan ekologis, keberpihakan pada rakyat, dan penghentian praktik-praktik yang menjual kekayaan negeri ini ke tangan asing.

‎Kemudian Pesan Kami Kepada Pemerintah Sumenep:

‎-Jangan sibuk mengurusi bendera sementara kami hidup dalam penderitaan, dan rakyat bukan tidak mencintai merah-putih. Justru karena cinta itulah kami bersuara.

‎Dan kami menolak kepura-puraan nasionalisme yang hanya hidup di baliho dan upacara. Nasionalisme sejati ada dalam keberpihakan pada rakyat, bukan pada investor asing.***

*Catatan Pena Hidayatullah: Aktivis PMII, Ketua BEM Universitas PGRI Sumenep

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan