Jika Merah Putih Adalah Harga Mati, Maka Lindungilah Tanah Air Yang Mengibarkannya
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumenep, Jawa Timur, kembali memperlihatkan ironi yang menyedihkan.
Di tengah keresahan dan keterjepitan hidup masyarakat terutama di wilayah kepulauan mereka justru sibuk mengurusi hal-hal simbolik.
Mengibarkan bendera selain merah-putih dianggap sebagai kesalahan. Nasionalisme kami dipertanyakan hanya karena kami menunjukkan kekecewaan.
Padahal, yang jauh lebih menyakitkan adalah: pemerintah sendiri justru mengkhianati merah-putih itu, dengan terus memberi ruang bagi pihak asing mengeksploitasi sumber daya alam kami terutama migas tanpa kontribusi nyata yang dirasakan masyarakat kepulauan.
Boleh saja pemerintah menertibkan warga yang “tak sesuai prosedur”, tetapi jangan pura-pura lupa: yang lebih menyakitkan bukanlah soal bendera, melainkan bagaimana kami, masyarakat kepulauan, perlahan kehilangan kedaulatan atas tanah kami sendiri.
Apa makna merah-putih jika sumber daya alam kami dikuasai korporasi? Apa arti nasionalisme jika rakyat hanya menjadi penonton di panggung penderitaan?
Kami, mahasiswa Universitas PGRI Sumenep, tidak akan tinggal diam melihat ironi ini.
Kami tegaskan:
-Bahwa kami tidak butuh seremonial nasionalisme, jika rakyat tetap menjadi korban kebijakan.
-Kami tidak butuh digurui soal cinta tanah air, jika para pemimpin daerah justru menjadi makelar tanah air itu sendiri.
-Kami tidak akan berdiam diri melihat Sumenep terutama wilayah kepulauan terus diperlakukan seperti halaman belakang yang dilupakan, apalagi saat investor datang membawa proposal racun berbungkus manis.
-Dan kami menolak nasionalisme palsu.
Kami menolak simbolisme kosong.
Kami menuntut keadilan ekologis, keberpihakan pada rakyat, dan penghentian praktik-praktik yang menjual kekayaan negeri ini ke tangan asing.
Kemudian Pesan Kami Kepada Pemerintah Sumenep:
-Jangan sibuk mengurusi bendera sementara kami hidup dalam penderitaan, dan rakyat bukan tidak mencintai merah-putih. Justru karena cinta itulah kami bersuara.
Dan kami menolak kepura-puraan nasionalisme yang hanya hidup di baliho dan upacara. Nasionalisme sejati ada dalam keberpihakan pada rakyat, bukan pada investor asing.***
*Catatan Pena Hidayatullah: Aktivis PMII, Ketua BEM Universitas PGRI Sumenep
Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.
Follow


