Cerita tentang anak-anak Belitung yang bersekolah dalam keterbatasan itu kemudian terus bergerak dari satu layar ke layar lain.
Dalam tujuh minggu, Laskar Pelangi telah ditonton 4 juta orang. Angka tersebut bahkan melampaui capaian film Ayat-Ayat Cinta pada masa itu.
Kini, setelah hampir dua dekade berlalu, film tersebut menemukan ruang penonton yang berbeda. Bukan gedung bioskop dengan antrean panjang, melainkan halaman mushalla pesantren yang dipenuhi para santri.
Sekretaris Yayasan PP. Manarul Huda, Syukri mengatakan, kegiatan tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar hiburan.
“Tujuan dilaksanakannya nonton bareng ini adalah untuk mempererat kebersamaan, sekaligus memotivasi generasi muda Yamanda agar terus belajar dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya,” ungkapnya.
Antusiasme santri terlihat sepanjang pemutaran. Tawa dan decak kagum mengikuti alur cerita, sementara sejumlah wali santri turut menyaksikan dari sekitar lokasi.
Bagi KKN UA Posko 04 dan Yayasan PP. Manarul Huda, film merupakan pintu masuk untuk menghadirkan pembelajaran dengan cara yang lebih dekat dengan dunia santri.
Dari layar bioskop pada 2008 hingga halaman musala di Pakamban Daya pada 2026, Laskar Pelangi kembali menemukan penontonnya.
Ceritanya mungkin telah berusia hampir dua dekade, tetapi pesan tentang pendidikan, keberanian bermimpi dan kegigihan belajar masih menemukan tempat di antara anak-anak yang sedang menatap masa depan. ***

