SUMENEP, DIMADURA – Hampir dua dekade setelah membuat jutaan penonton memenuhi bioskop, Laskar Pelangi kembali menyapa anak-anak. Kali ini, film garapan Riri Riza itu hadir di halaman depan Mushalla Putra PP. Manarul Huda, Pakamban Daya, Sumenep.

Sekitar 60 santri mengikuti nonton bareng yang digelar Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Annuqayah (UA) Posko 04 bersama Yayasan PP. Manarul Huda, Minggu malam tanggal 13 September 2026.

Sejumlah wali santri turut hadir dalam kegiatan yang memadukan hiburan dengan pembelajaran tersebut.

Di halaman mushalla, kisah Ikal, Lintang, Mahar dan kawan-kawan kembali membawa pesan tentang pendidikan. Perjuangan anak-anak Belitung untuk tetap belajar di tengah keterbatasan diharapkan dapat menumbuhkan semangat para santri untuk terus menuntut ilmu dan berani memiliki cita-cita.

Pemutaran film tidak berhenti ketika layar ditutup. Pihak yayasan menyiapkan reward bagi santri yang mampu mengulas kembali jalan cerita dan makna yang terkandung di dalamnya.

Santri diajak tidak sekadar menonton, tapi juga menyampaikan apa yang mereka tangkap dari film tersebut. Sesi itu sekaligus menjadi latihan keberanian berbicara di depan umum dan kemampuan merefleksikan pesan pendidikan yang mereka peroleh.

Bagi sebagian santri, mungkin ini menjadi perjumpaan pertama dengan kisah Laskar Pelangi. Namun bagi banyak orang, judul tersebut membawa ingatan pada satu masa ketika film tentang anak-anak Belitung dan perjuangan mereka mendapatkan pendidikan begitu kuat menyita perhatian publik.

Film itu telah menempuh perjalanan panjang sejak pertama kali hadir di layar bioskop.

Pada September 2008, Laskar Pelangi sedang menjadi pembicaraan. Film garapan Riri Riza yang diadaptasi dari novel Andrea Hirata itu baru beberapa hari tayang ketika antrean penonton mulai memenuhi bioskop.

Sepuluh hari setelah pemutaran perdana, jumlah penontonnya mencapai 1,1 juta orang. Pada 7 Oktober 2008, angkanya telah menembus 1,3 juta.

Cerita tentang anak-anak Belitung yang bersekolah dalam keterbatasan itu kemudian terus bergerak dari satu layar ke layar lain. 

Dalam tujuh minggu, Laskar Pelangi telah ditonton 4 juta orang. Angka tersebut bahkan melampaui capaian film Ayat-Ayat Cinta pada masa itu.

Kini, setelah hampir dua dekade berlalu, film tersebut menemukan ruang penonton yang berbeda. Bukan gedung bioskop dengan antrean panjang, melainkan halaman mushalla pesantren yang dipenuhi para santri.

Sekretaris Yayasan PP. Manarul Huda, Syukri mengatakan, kegiatan tersebut memiliki tujuan yang lebih luas daripada sekadar hiburan.

“Tujuan dilaksanakannya nonton bareng ini adalah untuk mempererat kebersamaan, sekaligus memotivasi generasi muda Yamanda agar terus belajar dan menempuh pendidikan setinggi-tingginya,” ungkapnya.

Antusiasme santri terlihat sepanjang pemutaran. Tawa dan decak kagum mengikuti alur cerita, sementara sejumlah wali santri turut menyaksikan dari sekitar lokasi.

Bagi KKN UA Posko 04 dan Yayasan PP. Manarul Huda, film merupakan pintu masuk untuk menghadirkan pembelajaran dengan cara yang lebih dekat dengan dunia santri.

Dari layar bioskop pada 2008 hingga halaman musala di Pakamban Daya pada 2026, Laskar Pelangi kembali menemukan penontonnya.

Ceritanya mungkin telah berusia hampir dua dekade, tetapi pesan tentang pendidikan, keberanian bermimpi dan kegigihan belajar masih menemukan tempat di antara anak-anak yang sedang menatap masa depan. ***