Penulis: Miftahol Hendra Efendi
KOLOM, DIMADURA - Nama besar tidak selalu rusak karena kesalahan pemiliknya. Terkadang, reputasi justru dipertaruhkan oleh cara orang-orang di sekelilingnya menjalankan tanggung jawab.
Situasi itulah yang layak menjadi bahan evaluasi di RS Baghraf Health Care (BHC) Sumenep, setelah kematian Moh. Firman Ramadhani alias Dani yang hingga kini menyisakan pertanyaan meluas.
Sepekan setelah Dani meninggal dunia pada 13 Oktober 2026, keluarga masih menunggu penjelasan mengenai penanganan medis yang diterimanya. Hasil investigasi internal rumah sakit yang diharapkan bisa menerangkan kejadian tersebut juga belum disampaikan kepada keluarga.
Di tengah situasi itu, Direktur BHC Sumenep, dr. Tedjo Wahyu Putranto, menghadapi ujian yang tidak ringan. Bukan semata soal bagaimana rumah sakit menangani pasien, melainkan juga bagaimana manajemen menjelaskan persoalan yang telah menjadi perhatian publik.
Sebab, ketika sebuah institusi pelayanan kesehatan menghadapi pertanyaan serius, diam bukanlah pilihan komunikasi yang bijak.
Belum adanya tanggapan dari pihak yang berwenang memang tidak otomatis membuktikan adanya kesalahan medis. Penyebab kematian Firman pun belum dipastikan melalui hasil pemeriksaan yang disampaikan kepada publik. Namun, ketidakpastian itulah yang semestinya mendorong manajemen lebih terbuka menjelaskan proses yang sedang berlangsung.
Di sinilah persoalan reputasi bermula.
Pertaruhkan Nama Besar

