Pada akhirnya, yang membuat nama besar dipertaruhkan bukan semata-mata munculnya sebuah kasus, tapi bagaimana orang-orang yang menjalankan institusi meresponsnya.
BHC masih memiliki kesempatan untuk menjelaskan duduk perkara secara terbuka dan bertanggung jawab. Direktur rumah sakit juga masih memiliki ruang untuk menunjukkan bahwa kepemimpinan bukan hanya soal mengelola operasional, melainkan keberanian menghadapi pertanyaan yang sulit.
Sebab, dalam pelayanan kesehatan, kepercayaan tidak dibangun dengan meminta publik berhenti bertanya. Kepercayaan dibangun ketika pertanyaan dijawab dengan fakta. ***
Catatan Redaksi: Tulisan ini sepenuhnya merupakan opini mengenai komunikasi publik dan akuntabilitas manajemen. Hingga tulisan ini disusun, belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan adanya kesalahan medis dalam penanganan Dani. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi dr. Tedjo Wahyu Putranto, MH Said Abdullah, Dinkes P2KB Sumenep, serta pihak terkait lainnya.

