dimadura
Beranda Tomang Sumenep Menu MBG SMK Swasta di Kecamatan Batuputih Diduga Bermasalah, Roti dalam Kresek Berjamur

Menu MBG SMK Swasta di Kecamatan Batuputih Diduga Bermasalah, Roti dalam Kresek Berjamur

Foto roti basi dalam kresek, menu MBG bermasalah SMK Swasta di Kecamatan Batuputih (Foto: Doc. Dimadura)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SUMENEP, DIMADURA – Salah seorang guru SMK swasta di Kecamatan Batuputih, berinisial K, mengeluhkan kondisi menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Yayasan Dapur Alif kepada siswa pada hari Jumat (28/11/2025).

Ia menyebut terdapat dua menu yang dibagikan pada hari itu, yakni menu nasi ompreng dan menu kering berupa roti, susu, dan buah. Sementara roti yang diterima siswa disebut sudah tidak layak dikonsumsi.

“Ada yang berjamur. Rasanya asem. Mujur nggak semua anak memakannya sampai habis,” kata guru K kepada media ini, Jumat (27/11).

Ia menambahkan bahwa sebagian siswa tetap memakannya karena mengira rasa tersebut adalah rasa normal dari roti itu. “Dikiranya aman-aman saja,” imbuhnya.

Pihaknya berharap agar ke depan menu yang dibagikan dicek kembali dengan baik sebelum sampai ke tangan siswa, terlebih karena ini adalah pertama kalinya siswa menerima menu rangkap hari, yakni menu Jumat yang dibagikan secara rangkap oleh Yayasan pada hari Kamis.

Hasil konfirmasi kepada Ketua Yayasan MBG Alif Batuputih, H. Mawardi, memberikan penjelasan berbeda. Ia menyebut menu yang dianggap bermasalah tersebut sebenarnya masih berada dalam batas kelayakan.

Mawardi menyampaikan alasan bahwa sejumlah lembaga pendidikan di bawah Kemenag lumrahnya libur pada Jumat, sehingga menu Kamis ikut dibagikan pada hari berikutnya untuk memastikan siswa tetap memperoleh jatah.

“Menu roti dalam tas kresek itu sebenarnya menu hari Jumat yang dibagikan bersamaan dengan menu Kamis. Nilainya sekitar Rp9.000,” ungkapnya, saat dikonfirmasi melalui saluran WhatsApp, Sabtu (28/11).

Menurutnya, standar nilai menu ditetapkan berdasarkan kategori jenjang pendidikan: Rp10.000 untuk kelas 4 hingga SMA dan Rp8.000 untuk jenjang RA/PAUD, sehingga dirata-ratakan menjadi Rp9.000. Selama nilai minimum tersebut terpenuhi, pihaknya menilai tidak ada pelanggaran aturan distribusi.

Menanggapi dugaan roti yang sudah basi, Mawardi menilai perubahan rasa dapat terjadi jika makanan tidak dikonsumsi pada hari yang sama. “Kalau dimakan keesokan hari terasa beda, itu wajar. Sama seperti makanan yang kita beli hari ini lalu baru dimakan besok,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa pihaknya dilarang menggunakan menu industri seperti biskuit yang lebih tahan lama. “Kalau boleh pakai industri, kami pilih biskuit saja. Tapi aturan melarang,” katanya.

Sebagai bentuk pengawasan internal, Mawardi menyebut setiap sampel menu disimpan di freezer hingga keesokan harinya untuk memastikan kualitas menu rangkap hari yang dibagikan tetap bisa ditelusuri ketika ada komplain. Jika laporan disampaikan pada hari yang sama, pihaknya mengklaim masih dapat memberikan respon cepat.

Mawardi lanjut meluruskan anggapan bahwa pihaknya menentukan sendiri lembaga penerima manfaat MBG. Ia menegaskan data wilayah pembagian berasal dari Koramil setempat.

Jika ada dapur lain yang belum siap mendistribusikan menu, barulah dialihkan ke dapur yang ia kelola melalui prosedur proposal resmi.

Program MBG yang sedang berjalan, kata Mawardi, merupakan periode kedua dengan jumlah penerima manfaat yang meningkat dari sekitar 2.200 menjadi 2.700 siswa. ***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Konten Iklan