dimadura
Beranda Tomang Sampang Museum Mini Pemkab Sampang Dinilai Tak Mencerminkan Identitas Budaya

Museum Mini Pemkab Sampang Dinilai Tak Mencerminkan Identitas Budaya

Museum Mini Pemkab Sampang Dinilai Tak Mencerminkan Identitas Budaya (Foto; Zainullah for dimadura.id)

Cropped Cropped Dimadura Logo2 1 150X150 1NEWS SAMPANG, DIMADURA — Museum mini yang dikelola Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Sampang, Jawa Timur, dinilai tidak mencerminkan identitas budaya.

Pasalnya, museum mini milik Pemkab Sampang yang berlokasi di Dusun Madegan, Kelurahan Polagan, Kecamatan Kota tersebut ditengarai jauh dari kata layak sebagai ikon sejarah lokal setempat.

Salah satu warga, Junaidi, mengungkapkan kekecewaannya atas kondisi museum tersebut. Menurutnya, museum itu sering diidentikkan dengan bangunan kuno atau peninggalan masa lampau.

“Menurut saya, museum yang berada di Polagan Madegan itu tidak layak disebut museum. Bangunannya saja bekas kantor kelurahan, tidak ada ciri khasnya sebagai museum. Bahkan di dalamnya hanya ada beberapa benda tanpa keterangan asal-usulnya,” ujarnya, Kamis (9/10/2025).

Ia menambahkan, museum seharusnya memiliki bangunan yang mencerminkan nuansa klasik atau bersejarah, sehingga masyarakat merasa sedang berkunjung ke tempat yang penuh nilai budaya.

“Kalau mau disebut museum, ya bangun dulu tempatnya dengan ciri khas Madura, khususnya Sampang,” harap Junaidi.

Menanggapi hal itu, Kabid Kebudayaan Disporabudpar Sampang Abdul Basith, mengatakan bahwa keberadaan museum tidak bisa langsung dinilai dari banyaknya koleksi atau tampilan bangunan semata.

“Tidak ada museum yang langsung lengkap. Koleksinya akan terus bertambah dari waktu ke waktu. Kalau dicari kekurangannya, ya tentu masih banyak,” terang Basith.

Basith menjelaskan, saat ini terdapat empat museum di Kabupaten Sampang, satu milik Pemkab yang berada di Polagan, dan tiga lainnya milik pribadi.

“Ada museum milik Pak Bustomi di Kecamatan Banyuates, peninggalan Bujhu’ Napo di Omben, dan satu lagi di Jalan Syuhada’ milik Pak Beidi,” sebutnya.

Menurut Basith, penyatuan seluruh koleksi ke dalam satu museum tidak memungkinkan karena setiap tempat memiliki konteks dan daya tarik sejarah masing-masing.

“Kalau semua disatukan, misalnya benda peninggalan Bujhu’ Napo dipindah ke Polagan, pengunjung yang ingin melihat langsung peninggalannya justru kehilangan konteks sejarahnya,” jelasnya.

Basith mengkalim, museum milik Pemkab Sampang di Polagan saat ini memiliki sekitar 50 hingga 60 koleksi benda bersejarah, mulai dari alat rumah tangga zaman dulu hingga pusaka peninggalan masyarakat lama.

“Kalau seluruh koleksi dari berbagai museum di Sampang digabung, jumlahnya bisa mencapai sekitar 300 benda,” pungkasnya.***

Follow akun TikTok dimadura.id untuk update video berita terbaru.

Follow
Komentar
Bagikan:

Konten Iklan